KOMPAS.com - ”Saya akan mempersembahkan sebuah lagu yang menjadi favorit Bapak Presiden, ’Waterloo’, lagunya ABBA.” Begitulah pengantar pendek Hayley Jensen, pemenang ”Australian Idol”, sebelum bernyanyi.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersenyum. Perdana Menteri Australia Kevin Rudd dan tamu undangan lainnya bertepuk tangan. Dan, segera Hayley Jensen melantunkan tembang itu.
”My my, at Waterloo Napoleon did surrender
Oh yeah, and I have met my destiny in quite a similar way
The story book on the shelf
Is always repeating itself
……………………………….”
Itulah lagu kedua yang dinyanyikan Hayley Jensen untuk menyemarakkan jamuan makan siang di salah satu ruangan di kompleks Gedung Parlemen Australia di Canberra kemarin. Lagu pertama Hayley Jensen, yang dinyanyikan dengan iringan gitar, adalah ”My Island Home”.
Seorang profesor dari The Australian National University, Peter McDonald, yang duduk semeja dengan saya, seraya berbisik bertanya, ”Apa Pak SBY senang lagu itu?” Saya jawab dalam bisikan pula, ”Tidak tahu.” Ia masih melanjutkan, ”Tapi saya tahu Presiden suka menyanyi dan main gitar.”
Ya, Kevin Rudd juga tahu kalau Presiden suka main gitar dan menyanyi. Bahkan, Kevin Rudd, dalam jumpa pers bersama di plasa kompleks Gedung Parlemen beberapa saat sebelum jamuan makan, mengatakan, ”Bapak Presiden Yudhoyono pintar main gitar dan menyanyi.” Yang mendengar pernyataan Perdana Menteri tersenyum. Ada yang tepuk tangan.
Sebelum Hayley Jensen menyanyi, dalam pidato singkatnya setelah jamuan, Kevin Rudd kembali mengatakan bahwa Presiden senang menyanyi dan main gitar. Karena itu, saya memberikan hadiah kepada Presiden sebuah gitar yang bertuliskan SBY,” katanya. Dan, pengumuman itu disambut tepuk tangan.
”Anda teman kami yang sesungguhnya,” lanjut Kevin Rudd dan pemimpin oposisi Tony Abbott yang berpidato setelah Kevin Rudd menambahkan, ”Bapak Presiden teman Australia.”
Saat giliran berpidato, ia mengawali pidatonya dengan mengatakan, ”Saya tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi setelah ini,” sebagai jawaban semua yang dikatakan Kevin Rudd dan Tony Abbott.
Presiden lalu mengatakan, ”Biasanya dalam jamuan saya diminta pidato panjang lebar sebelum mencicipi makanan, tetapi kali ini saya diminta pidato setelah mencicipi makanan. Orang Australia memang sangat bijaksana.”
Ruangan tempat jamuan makan siang itu pun menjadi meriah. Presiden lalu mengatakan arti pentingnya kunjungan ke Australia kali ini. ”Sebelum berangkat ada wartawan yang bertanya, seberapa pentingnya Australia bagi Indonesia. Pertanyaan itu saya jawab, ’Lihat saja berapa besar rombongan yang berangkat, ada 13 menteri, enam gubernur, tiga anggota parlemen. Benar-benar delegasi yang besar. Ini menunjukkan betapa pentingnya kunjungan ke Australia ini.”
”Bayangkan,” kata Presiden dalam pidatonya di parlemen, ”Dalam 55 tahun hubungan kita, hanya tiga presiden Indonesia yang pernah mengunjungi Australia (dua presiden lainnya adalah Soeharto dan Abdurrahman Wahid). Dalam enam tahun terakhir saya telah mengunjungi Australia tiga kali—rata-rata sekali dalam dua tahun.”
Presiden lalu menyinggung saat ini semakin banyak orang Indonesia yang belajar di Australia. ”Dua menteri saya lulusan Australia. Sekarang makin banyak yang belajar di sini, siapa tahu suatu ketika bisa jadi menteri. Anak saya lima tahun sekolah di Perth dan sekarang menjadi anggota parlemen,” katanya.
Presiden juga bercerita sangat senang nonton Australia Open. ”Kalau pas ada Australia Open, saya selalu nonton lewat televisi, dan saat nonton itu tidak ada seorang pun ajudan yang berani mengetuk pintu, mengganggu, kecuali ada peristiwa yang sangat penting,” katanya lalu disambung, ”Juara Australia Open terakhir Roger Federer. Ia mengalahkan Andy Murray.”
Jamuan makan siang pun menjadi tambah segar karena tiga pidato yang mengundang banyak tawa dan tepuk tangan itu. Menu utama Tasmanian Salmon juga terasa enak, seenak hangat dan eratnya hubungan Indonesia-Australia, yang menurut Kevin Rudd, ”Menjadi kawan adalah pilihan.”
Dan Presiden menjawabnya, ”Saya datang ke negeri besar ini membawa pesan kehendak baik dan persahabatan dari rakyat Indonesia yang baik. Pesannya jelas: Australia dan Indonesia memiliki masa depan yang jaya. Kita bukan sekadar tetangga. Kita bukan sekadar kawan. Kita mitra strategik.”
Saat itu pula terdengar suara Hayley Jensen:
”Waterloo—I was defeated, you won the war
Waterloo—promise to love you for ever more
Waterloo—couldn’t escape if I wanted to
Waterloo—knowing my fate is to be with you
Waterloo—finally facing my waterloo
…………………………………………”
