Kamis, 9 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 9 Februari 2012 | 17:03 WIB
Dulmatin Terlacak sejak Lama
| wsn | Kamis, 11 Maret 2010 | 08:12 WIB
|
Share:
KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWANKepala Pusdokkes Mabes Polri Brigjen Pol dr Musaddeq Ishaq menunjukkan foto tersangka teroris Dulmatin di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (10/3/2010).

JAKARTA, KOMPAS.com — Keberadaan Yahya Ibrahim alias Dulmatin di rumah kontrakannya di Gang Salak 5 RT 004 RW 04, Buaran, Kelurahan Pondok Benda, Pamulang, Tangerang Selatan, sebetulnya sudah diketahui polisi sejak akhir Februari.

”Minggu, 21 Februari 2010, saya dihubungi orang yang mengaku sebagai petugas intel Densus 88. Intel itu kemudian mendatangi rumah saya untuk memastikan keberadaan Ibrahim,” kata Ketua RT 004 Mawi Hartono, Rabu (10/3/2010) di kediamannya.

Menurut Mawi, sejak itu, petugas intel Densus 88 terus berkoordinasi dengan dirinya sampai penangkapan kelompok teroris, Selasa.

Mawi mengisahkan, pertama kali mengenal Ibrahim ketika laki-laki tinggi tegap, yang selalu memakai baju gamis, itu meminta izin menetap di wilayahnya, Mei 2009. Kala itu, Ibrahim menyerahkan fotokopi kartu tanda penduduk (KTP) dengan nama lengkap Yahya Ibrahim, kelahiran 2 Januari 1973 di Jakarta. Di KTP itu tercantum juga alamat asal Ibrahim, yaitu di Jalan Masjid Fathul Ghofur RT 010 RW 004, Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur.

”Sesuai KTP yang berlaku sampai dengan 2 Januari 2010, ia tercatat belum kawin. Ia sendiri mengaku bekerja di showroom jual beli sepeda motor di Ciputat. Saat mulai mengontrak, ia bersama dua teman laki-laki bernama Muhammad Subkhon dan Umar,” kata Mawi.

Ibrahim dan dua temannya itu mulai menghuni dua rumah petak milik Karsana per 18 Mei 2009. Beberapa bulan kemudian, seorang perempuan bercadar, disapa Bu Fat, dan seorang anak berusia sekitar dua tahun, Rumaisoh, pindah ke kontrakan tersebut. Ibrahim mengenalkan mereka sebagai istri dan anaknya.

Ibrahim dikenal ramah dan bertingkah laku normal. Namun, ia pernah kedapatan memeriksakan kesehatan anaknya di bidan Yuliani, tetangga kontrakan, dengan nama lain, Reza. Ia rajin beribadah di Masjid Al Falah dekat kontrakan tersebut dan rutin meninggalkan rumah pada pagi hingga sore hari layaknya pekerja biasa.

”Namun, banyak temannya datang ke kontrakan, termasuk laki-laki yang pakai sepeda motor Suzuki Thunder yang ditembak mati polisi di Gang Asem dan perempuan yang menggunakan cadar,” kata Mawi.

Hasil penelusuran di sekitar Gang Salak dan Jalan Salak Raya, ternyata banyak teman Ibrahim yang tinggal mengontrak di kawasan itu. Sedikitnya, ada tiga nama lain yang dikenal warga. Selain Subkhon dan Umar, ada juga Irhasyi Marcho Adam yang mengaku kuliah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Masih disegel

Kediaman Fauzi Syarief di Gang Asem, Jalan Setiabudi Nomor 15, Pamulang Barat, dan warnet Multiplus di Jalan Siliwangi, Pamulang, Rabu kemarin, masih kosong dengan garis polisi menyegel rumah besar bertingkat dua itu. Olah tempat kejadian perkara yang direncanakan akan dilakukan Kepolisian Negara RI tidak juga berlangsung hingga malam.

Meski tak ada informasi baru, di sekitar kamar jenazah Rumah Sakit Polri, RS Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, sepanjang pagi hingga malam kemarin, masih dipenuhi wartawan cetak, situs berita internet, radio, dan televisi. Puluhan pewarta foto dan juru kamera menunggu datangnya keluarga atau orang-orang terdekat korban tewas. Meski beberapa polisi memberi tahu bahwa hari itu tidak akan ada keluarga atau rekan-rekan korban tewas yang datang, kalangan wartawan tetap bersikeras menunggu.

Sementara itu, Kepala Unit Identifikasi DNA Lembaga Eijkman Doktor Herawati Udoyo, yang dihubungi terpisah, kemarin, mengatakan, DNA pembanding tersangka yang sudah disimpan dua tahun oleh polisi tetap layak atau memenuhi syarat untuk digunakan sebagai pembanding.

”DNA itu bersifat stabil sejauh disimpan dalam ruang pendingin dengan suhu tertentu,” tutur Herawati. Dengan adanya DNA pembanding yang sudah disimpan tersebut, polisi bisa cepat memastikan siapa korban yang tewas.

”Proses uji banding DNA bisa selesai dalam 24 jam. Saya tahu laboratorium DNA Polri di Cipinang, Jaktim, mampu melakukan hal itu,” ucap Herawati. Laboratorium DNA bantuan Australian Federal Police tersebut mulai bekerja sejak awal tahun ini. Sebelum memiliki laboratorium DNA sendiri, polisi menggunakan jasa dari Lembaga Eijkman.

Sumber :
Kompas Cetak