Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 07:34 WIB
Keluarga Dulmatin Terganggu CCTV Polisi
Abdul Qodir Zaelani | Edj | Rabu, 10 Maret 2010 | 20:18 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasca bom Bali I 2002 terjadi, pihak kepolisian mengawasi ketat setiap pergerakan anggota keluarga Dulmatin di Pemalang, Jawa Tengah.

Pengawasan tidak hanya dilakukan dari luar rumah, karena pihak kepolisian juga memasang CCTV di rumah ibunda Dulmatin Masniyati, Pemalang. "Setelah ada bom Bali 2002, kami memang sudah terputus. Sejak itu, kami memang diawasi penuh sama polisi. Dari mulai dipasang CCTV sampai istrinya atau saya keluar rumah diikutin kemana. CCTV dipasang di rumah ibu saya," kata kakak kandung Dulmatin, Azzam Baabud, Jakarta, Kamis (10/3/2010).

Azzam mengungkapkan, pengawasan seperti itu sangat mengganggu privasi keluarganya. "Kalau saya sih ada merasa senang juga dapat kemanan. Tapi kan terasa juga kalau privasi kami terganggu," ujarnya.

Ia menambahkan, akibat pemberitaan dan pengecapan Dulmatin sebagai teroris, istri Dulmatin pernah merasa jengkel. Karena sepengetahuan mereka Dulmatin tidak punya sosok berjiwa teroris. "Istri merasa kalau emosional, yah jengkel. Karena kok sampai begitunya mengecap suaminya sebagai teroris," keluhnya.

Istri Dulmatin Istiada, sejak setahun lalu tinggal di Sukoharjo Jawa Tengah, bekerja sebagai guru di Pesantren Ulul Albab, Polokarto. Di sekitar kompleks pesantren tersebut tinggal pula Zakiyah Darojat, istri Imam Samudra. Zakiyah juga bekerja di pesantren itu sebagai pengajar. Demikian pula Rina Yudi Astuti, istri Urwah alias Bagus Budi Pranoto.

Azzam yang merupakan kakak tertua Dulmatin mengatakan, Dulmatin saat SMA adalah murid yang cerdas dengan nilai di atas rata-rata. "Nilainya paling tinggi Matematika," katanya.

Ia membantah bahwa adiknya adalah mempunyai keahlian elektronik yang bisa membuat bom. "Saya perlu luruskan, itu tidak mungkin. Selama SMA hingga lulus, dia sama sekali tidak mengerti soal elektronik. Pernah belajar dari buku, tapi dia enggak ngerti," tandasnya.

Tak lama Dulmatin lulus SMA sekitar 1999, ia memilih merantau. Pertemuan terakhir terjadi sekitar enam bulan sebelum kejadian bom Bali I, 2002. "Waktu itu, dia datang ke rumah," katanya.

Pasca bom Bali 2002, Azzam dan keluarga putus komunikasi dengan Dulmatin. Keluarga sudah sempat mencari di beberapa kota di Indonesia, namun tak juga ketemu. "Kalau pusat pencarian hanya sebatas di Indonesia, bertanya kepada teman-teman bergaulnya. Tidak sampai ke luar negeri," ujarnya.

Azzam akui di kamar Dulmatin banyak buku berisi ajaran Jihad. Bahkan, Azzam sendiri membaca buku sejenis. Namun, lanjutnya, bukan berarti membaca buku-buku itu mempelajari soal ajaran teroris.