PEMALANG, KOMPAS.com — Keluarga besar Joko Pitono alias Dulmatin di Kelurahan Petarukan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, tidak merasa kaget mendengar kabar tewasnya anggota keluarga mereka. "Biasa saja," ucap ayah tiri Dulmatin, Jazuli (57), di Pemalang, Rabu (10/3/2010).
Jazuli bersama sanak famili Dulmatin menyaksikan bersama penjelasan Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri mengenai identitas terduga teroris yang tewas dalam penyergapan di dua lokasi di Kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Selasa (9/3/2010). Ketika Kapolri memastikan bahwa salah seorang yang tewas adalah Dulmatin, tidak terlihat reaksi khusus di ruang keluarga rumah Jazuli meski beberapa orang terlihat berkaca-kaca.
"Kami tidak kaget sebab kami sudah lama tidak berhubungan dengan Dulmatin. Dia pergi sudah lama, sebelum peristiwa Bom Bali I terjadi (pada tahun 2002). Kami tidak tahu apa kegiatannya selama ini," terang Jazuli.
Dulmatin disebut-sebut ahli merangkai bom. "Kami juga tidak tahu soal itu (kemampuan merangkai bom). Setahu saya habis lulus SMA dia pernah belajar jadi montir televisi," jelas Jazuli.
Meski Kapolri sudah memastikan identitas Dulmatin, Jazuli mengaku hingga saat ini belum ada pemberitahuan dari polisi kepada keluarga. Meski begitu, keluarga berharap jenazah Dulmatin bisa dibawa pulang dan dimakamkan di Pemalang.
