JAKARTA, KOMPAS.com — Penyergapan tersangka teroris di Gang Asem, Jalan Setiabudi, Pamulang Barat, Selasa (9/3/2010) kemarin, terjadi di siang bolong saat warga masih sibuk beraktivitas tak jauh dari lokasi kejadian. Beruntung, tak satu pun warga sipil ikut menjadi korban dalam kejadian itu.
Meski begitu, penyergapan yang diwarnai dengan penembakan ini sangat mengagetkan warga. Mereka tak menyangka bahwa perburuan terhadap teroris bakal terjadi persis di depan matanya.
"Saya kaget banget. Itu pas banget di depan saya. Langsung saya disuruh menghindar sama polisi," kata Rosiana, saksi kejadian, saat ditemui Kompas.com, Rabu (10/3/2010) di lokasi kejadian.
Ia menuturkan, saat kejadian situasi terbilang cukup ramai. Di sekitar Gang Asem memang terdapat beberapa warung yang banyak warga berbelanja. Rosiana saat itu pun tengah berada di teras rumah bersama ibunya, Supit.
"Pas itu tiba-tiba dua teroris itu lewat di depan rumah. Dia dikejar polisi," tuturnya.
Persis di depan warung miliknya, kata dia, kedua tersangka teroris yang mengendarai sepeda motor Suzuki Thunder itu jatuh tersungkur. Tim Densus 88 Antiteror yang mengenakan pakaian preman itu pun langsung mengejar dan menembaki keduanya.
"Kalau yang kayak perempuan dan pakai cadar itu sempat loncat dan lari ke arah warung saya. Di situ dia ditembaki polisi sampai mati," terangnya.
Aksi pengejaran dan penembakan itu menyisakan sejumlah kerusakan di rumah milik Rosiana. Lantai semen di depan warungnya rusak berlubang akibat kena peluru polisi. Lima lubang itu cukup besar dan masih tersisa hingga kini dengan lebar sekitar 5 cm dan kedalaman 2 cm.
"Ya enggak apa-apa. Untung aja enggak ada orang sini yang kena tembak," tuntasnya.
