SERAMBI/M ANSHAR Brimob dari Mabes Polri melakukan pergantian dengan pasukan Brimob sebelumnya, sebelum melakukan operasi pengepungan lanjutan terhadap kelompok radikal di kawasan hutan Desa Lam Kabeue, Aceh Besar, Jumat (5/3/2010).
JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Irwandi Yusuf mengatakan, pemerintah tidak mungkin menetapkan Provinsi NAD menjadi Daerah Operasi Militer (DOM) pascapenyerbuan kelompok yang diduga teroris di Pegunungan Jalin, Kecamatan Jantho, Kabupaten Aceh Besar. "Memang ada korban dari aparat, warga sipil maupun teroris, namun tidak ada kemungkinan Aceh menjadi DOM," kata Irwandi Yusuf di Jakarta, Selasa (9/3/2010).
Irwandi menuturkan, pasukan kepolisian juga tidak dikerahkan secara keseluruhan sehingga tidak ada rencana pemerintah untuk menetapkan Aceh sebagai DOM. "Personel polisi yang turun hanya Brimob dan Densus 88," ujar Irwandi.
Mantan tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini mengungkapkan, belum ada indikasi keterkaitan antara mantan anggota GAM dan kelompok teroris itu. Justru mantan anggota itu membantu Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk mengungkap keberadaan teroris itu.
Sebelumnya, Polri menyergap kelompok yang diduga teroris di hutan Jantho, Aceh Besar, tetapi mereka melarikan diri ke tengah hutan dan perkampungan sekitar. Sejumlah anggota kelompok itu berhasil ditangkap, satu orang lainnya tewas terkena tembakan, sedangkan tiga anggota Polri meninggal dunia ditembak kelompok teroris itu saat penyergapan.
Irwandi menyatakan, pihaknya belum mengetahui apakah para anggota teroris itu mendapatkan senjata api dari Jakarta, Mindanao (Filipina) atau daerah lainnya, karena saat ini pihak kepolisian masih menyelidiki.
Pejabat nomor satu di Aceh itu menyebutkan, dirinya dan pihak kepolisian mencatat beberapa anggota kelompok itu merupakan alumni pemberontak di Mindanao dan sudah mengantongi identitasnya. "Namun, kami tidak bisa menyebutkan identitas maupun inisialnya," tutur Irwandi.

