Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 01:11 WIB
Soegeng Sarjadi School of Government Diresmikan
Caroline Damanik | Glo | Selasa, 9 Maret 2010 | 13:25 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebutuhan akan pemimpin yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dengan efektif dan efisien mendorong Soegeng Sarjadi mendirikan sekolah pemerintahan swasta pertama di Indonesia.

Soegeng Sarjadi School of Government (SSSG) diresmikan di Hotel Four Season, Selasa (9/3/2010). Dalam sambutannya, Soegeng sebagai Ketua Dewan Pendiri SSSG berharap sekolah ini bisa menambah pengetahuan baru tentang kepemimpinan publik demokratis sekaligus mempertahankan demokrasi dan ekonomi kesejahteraan. "Jadi yang mau jadi bupati dan sebagainya itu ada bahan bagaimana mau membangun daerah," tuturnya.

Namun, sekolah ini tak tertutup hanya untuk birokrat tapi juga terbuka kepada aktivis mahasiswa, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), wartawan, anggota legislatif pusat dan daerah, juga profesional dan pengusaha.

Direktur Eksekutif SSSG Fadjroel Rachman berharap SSSG dapat membantu menciptakan pemimpin-pemimpin yang menngembangkan demokrasi, pluralisme, toleransi dan pertumbuhan pemerataan perekonomian bangsa.

Program Pelatihan Kepemimpinan Dalam tahun awalnya, SSSG akan fokus pada pelatihan kepemimpinan mengenai executive education yang mencakup program untuk elemen negara, masyarakat dan pasar.

SSSG juga menyediakan tim pengajar dan praktisi profesional, seperti mantan Wantimpres Ryaas Rasyid dan Jimly Asshidiqie. Ada pula nama-nama akademisi seperti Komaruddin Hidayat, Sukardi Rinakit dan Effendi Gazali, serta praktisi seperti Arswendo Atmowiloto dan Sandiaga Uno.

Diharapkan ini dapat menjawab tantangan kepemimpinan dan memberikan solusi untuk membuat suatu kebijakan.

Sekolah 'Oposisi'

Mantan Presiden Jusuf Kalla yang hadir dalam peresmiannya menyambut baik munculnya SSSG. Dia pun sempat berseloroh soal sekolah ini. "Bagus sekolah ini, karena bisa jadi sekolah oposisi. Eh tapi, oposisi itu juga perlu belajar ketekunan. Atau ini untuk seperti yang di Australia, ada shadow government, kalau pemerintahan utama runtuh, tinggal naik atau paling tidak ini sebagai upaya kritis untuk maju bersama meski caranya berbeda-beda," katanya disambut tawa hadirin yang datang.