Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 08:43 WIB
Kepolisian Tetap Pimpin Operasi Terorisme di Aceh
Hindra Liauw | Edj | Senin, 8 Maret 2010 | 18:34 WIB
|
Share:
SERAMBI/M ANSHAR Brimob dari Mabes Polri melakukan pergantian dengan pasukan Brimob sebelumnya, sebelum melakukan operasi pengepungan lanjutan terhadap kelompok radikal di kawasan hutan Desa Lam Kabeue, Aceh Besar, Jumat (5/3/2010).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Polri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri mengatakan, operasi pemberantasan terorisme yang berlangsung di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam saat ini tetap dilakukan Kepolisian. "Tidak ada (pergantian dari Polri ke TNI)," kata Kapolri kepada para wartawan, Senin (8/3/2010) di depan Istana Negara, Jakarta.

Secara terpisah, Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso mengatakan, dalam kondisi tertib sipil, polisilah yang bertugas menangani pemberantasan terorisme.

Kendati demikian, Djoko mengatakan, TNI telah memberikan bantuan intelijen, angkutan, dan lainnya terkait pemberantasan terorisme di Nanggroe Aceh Darussalam dan Selat Malaka.

Seperti diberitakan, pascatewasnya lima anggota Polri saat penggerebekan di NAD, Polri didorong agar tidak sendirian dalam melakukan pemberantasan terorisme. "Minta bantuanlah ke TNI karena mereka lebih berpengalaman melakukan aksi-aksi militer dalam medan apa pun, termasuk medan hutan sebagaimana di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)," katanya Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Fayakhun Andriadi, di Jakarta, Senin (8/3/2010).

Fayakhun menyampaikan ini menanggapi pernyataan pihak Polri yang mengungkapkan bahwa gugurnya tiga polisi dalam operasi pemberantasan teroris di hutan NAD karena pihaknya belum berpengalaman menghadapi medan tempur hutan.

"Di banyak negara lain pun, pasukan anti-teroris yang andal itu kan ada di kesatuan militernya. Makanya, perlu ada kerja sama atau permintaan bantuan dari TNI," ungkapnya.