Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 14:15 WIB
Kisruh Century
Indonesia Kehilangan Momen Positif Ekonomi
| Edj | Kamis, 4 Maret 2010 | 07:42 WIB
|
Share:

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Unjuk rasa Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Surabaya menyikapi Sidang Paripurna DPR yang membahas kasus Bank Century di depan Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (3/3/2010). Pengunjuk rasa meminta kepada Anggota DPR untuk menuntaskan kasus Century serta meminta pertanggungjawaban kepada pihak yang bertanggung jawab terhadap kasus ini.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Dunia usaha menunggu kepastian penyelesaian kasus Century secara elegan. Apabila penyelesaiannya menyudutkan figur tertentu, seperti Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, pasar modal kemungkinan akan terkoreksi.

Pengamat ekonomi Indef, Fadil Hasan, mengungkapkan hal itu di Jakarta, Rabu (3/3/2010), menanggapi kericuhan dalam penyelesaian kasus Bank Century.

Fadil mengatakan, kondisi pasar modal tampaknya tidak terpengaruh signifikan akibat kericuhan yang terjadi di ruang sidang paripurna ataupun di luar Gedung DPR/MPR. Begitu pula dengan nilai tukar rupiah yang tampaknya tetap stabil.

”Saya tidak melihat dampak signifikan. Namun, pengusaha masih menunggu apakah penyelesaian kasus ini reasonable dan respektif sehingga bisa dihargai semua pihak,” ujar Fadil.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengkhawatirkan meluasnya kericuhan. Pemerintah harus tegas karena investor pasti juga akan menunggu dan mencermati (wait and see) terhadap situasi keamanan.

”Kalau pemerintah tidak segera ambil tanggung jawab atas kasus ini, kekuatan rakyat bisa membahayakan. Rekan bisnis saya di luar negeri juga sudah menanyakan apakah betul akhir dari kasus ini akan terjadi reshuffle jajaran pemerintahan? Juga, ada yang menanyakan ketidakstabilan politik saat ini,” ujar Sofjan.

Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing mengatakan, selama beberapa hari, bahkan beberapa bulan belakangan ini, kasus Century sedikit banyak berpengaruh pada pasar modal Indonesia. Kasus ini telah meningkatkan kekhawatiran investor atas stabilitas sosial dan politik dalam negeri.

Ketika pembahasan kasus Century memanas, lanjut Pardomuan, investor biasanya akan mengambil sikap menunggu. Sikap ini kerap berdampak pada minimnya nilai transaksi jual-beli saham di Bursa Efek Indonesia.

Pada perdagangan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan melemah 9,5 poin atau 0,37 persen menjadi 2.567. Sementara itu, Indeks LQ-45 turun 1,7 poin atau 0,35 persen ke level 500,04 dan Indeks Kompas100 turun 2,3 poin atau 0,37 persen menjadi 616.

Pada awal perdagangan, indeks harga saham di BEI ini sempat menguat mengikuti kenaikan indeks pada Selasa lalu. Namun, memasuki sesi kedua perdagangan, indeks perlahan merosot hingga penutupan perdagangan.

Menurut Pardomuan, investor menjadi khawatir jika DPR memilih opsi yang mengindikasikan bahwa akan ada pejabat negara yang diganti. Kekhawatiran pasar juga meningkat karena opsi itu mengakibatkan koalisi politik pecah.

Sebelumnya, pengamat ekonomi dan pasar modal, Ferry Latuhihin, mengatakan, penyelesaian kasus Bank Century yang berlarut-larut telah mengakibatkan risiko investasi Indonesia meningkat. Kantor berita Bloomberg meningkatkan country risk Indonesia dari 24,5 menjadi 28.

Menurut Ferry, peningkatan risiko ini akan meningkatkan kekhawatiran investor global untuk menanamkan modalnya di Indonesia, baik di sektor keuangan maupun sektor riil.

Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono mengatakan, selama tahun 2009, para pelaku usaha, termasuk bankir, cenderung bersikap wait and see terhadap penyelesaian persoalan politik dalam negeri. Namun, jika proses ini berkepanjangan, maka Indonesia dikhawatirkan akan kehilangan momen positif dan berpeluang mendorong pertumbuhan ekonomi pascakrisis. (OSA/REI)

Sumber :
Kompas Cetak
Advertorial
»