JAKARTA, KOMPAS.com — Ancaman teroris terhadap kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas bukan sekadar isapan jempol. Sebab, sebelum aksi peledakan Hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton, 17 Juli 2009 silam, Noordin M Top sudah berputar-putar di Cikeas untuk memastikan posisi target.
Demikian dikatakan jaksa penuntut umum dalam dakwaannya terhadap Amir Abdillah, Rabu (10/2/2010). "Saefudin Zuhri dipertemukan dengan Noordin M Top dan bersama terdakwa (Amir Abdillah) mereka berputar-putar di sekitar daerah Cikeas," kata jaksa penuntut umum Totok Bambang dalam dakwaannya di depan sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu.
Sebelum berputar-putar di Cikeas, (alm) Noordin M Top, (alm) Saefudin Zuhri, dan Amir Abdillah berangkat dari rumah milik saudara Amir di Kompleks AL Blok F, No 11 Ciangsana, Bogor, Jawa Barat.
Aksi ketiganya yang menggunakan mobil Daihatsu Terrios B 8442 MQ hitam metalik dilakukan pada 30 Juni 2009. Dikatakan Totok, selama perjalanan memutari Cikeas, Noordin M Top menanyakan Saefudin Zuhri mengenai tempat perlindungan atau safe house untuk merencanakan aksi peledakan bom di Kuningan, Jakarta Selatan. "Saefudin Zuhri mengatakan bahwa tempat sudah disediakan dan siap digunakan," lanjutnya.
Diketahui, tempat perlindungan itu adalah Perumahan Puri Nusapala Blok D, No 12 Jatiasih, Bekasi. Sebelumnya, aksi berputar-putar itu guna mencari kontrakan di sekitar Cikeas. Namun, Amir yang disuruh Saefudin tidak menemukan kontrakan yang diminta. "Kemudian terdakwa mencarinya ke daerah Jatiasih yang tidak terlalu jauh dari Cikeas," katanya lagi.
Amir Abdillah yang pernah menjadi karyawan Hotel Mulia memiliki banyak nama, antara lain, Jali alias Awan alias Fery alias Ahmad Fery Rhamdani. Dirinya pernah mengawini adik Muhammad Syahrir dan Saefudin, yakni Eri Djuaerah. Namun tidak bertahan lama dan keduanya bercerai.
Perkenalan Amir dan Eri dicomblangi (alm) Ibrohim alias Boim, florist di Hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton.

