Gus Dur adalah pribadi yang "kaya". Kenangan akan dia pun bisa ditafsirkan dalam berbagai julukan figur tertentu, jauh melampaui dari sekadar catatan sejarah pemerintahan bahwa dia adalah presiden keempat Indonesia.
Dalam kenangan yang "multitesis" itu, Komunitas Seniman Lima Gunung menumpahkan semua yang mereka ingat tentang Gus Dur dalam bentuk empat karya seni patung dan empat lukisan.
Semua karya seni itu ditampilkan dalam acara MultitesisGusDurisme, Memperingati 37 Hari Meninggalnya Gus Dur, di Studio Mendut, Mungkid, Magelang, Jumat (5/2).
Ismanto, seniman dari lereng Gunung Merapi, misalnya, membuat patung Gus Dur yang gemuk dengan bagian badan dipenuhi pahatan binatang-binatang gunung mulai dari harimau hingga monyet. Karya ber judul "Gunung Gus Dur" ini membawa pesan di bawah naungan Gus Dur, semua makhluk bisa berdamai dan bersahabat.
Ia juga membuat patung yang menggambarkan Gus Dur yang tambun untuk mengesankan profil Gus Dur sebagai Semar dan Sang Buddha. "Pada intinya, Gus Dur juga sama seperti Semar atau Buddha. Figur pamomong, seorang bapak bagi kita semua," ujar Ismanto.
Patung lainnya adalah patung marmer berjudul "Gus Dur di Sarang Penyamun" karya Samsudin, menampilkan sosok yang terbungkuk-bungkuk bak diserang penyamun.
Sosok Gus Dur sebagai pejuang tangguh bak gladiator dibuat Sujono dalam bentuk patung berjudul "Gladiator Gus Dur". Satu patung lagi dibuat Cipto dalam bentuk patung Buddha berwajah Gus Dur dan berkacamata yang diberi judul "Mata Hati Gus Dur".
Empat lukisan lain yang juga dipajang bersama patung di antaranya berjudul "Gus Dur Juara Satu Surga". Dalam lukisan ini digambarkan Gus Dur berada di posisi paling tinggi di antara lima presiden lainnya.
KH Yusuf Chudlori, tokoh ulama dari Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Magelang, mengatakan, ada banyak cara untuk menghidupkan kembali kenangan akan Gus Dur. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Komunitas Lima Gunung yang semakin menegaskan bahwa Gus Dur adalah milik semua orang.
Mantan Menteri Dalam Negeri yang juga mantan Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto mengakui sangat mengagumi sosok Gus Dur. Ia menilai Gus Dur adalah sosok yang sangat sederhana dan bersahaja.
"Kesederhanaannya tidak berubah sekalipun dalam beberapa kali kunjungan, beliau sudah menjabat sebagi presiden," ujarnya.
Sutanto Mendut, pemilik Studio Mendut, menilai sebagai presiden, Gus Dur paling "nyeni" dibanding lima presiden lainnya.
"Gus Dur selalu berbicara blakblakan, kontroversial, dan banyak melontarkan ungkapan-ungkapan tak terduga. Tak diragukan lagi, Gus Dur adalah seorang seniman," ujarnya.
Gus Dur juga pencinta musik sejati mulai dari karya Bethoven hingga keroncong, mulai dari musik daerah hingga sholawatan.Dengan kekayaan pribadinya, Gus Dur layak dianggap sebagai Candi Borobudur yang dipenuhi dengan banyak ukiran dan pahatan sarat pesan dan makna.
Menurut Sutanto acara ini memang tidak digelar pada 40 hari meninggalnya Gus Dur karena sosok Gus Dur sendiri tidak identik dengan simbol tradisi 40 hari atau 100 hari. Mengenang kembali Gur bisa kapan saja. (Regina Rukmorini)

