Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 16:40 WIB
George Korban Politik "Catenaccio" SBY
Yogi Gustaman | msh | Senin, 8 Februari 2010 | 16:53 WIB
|
Share:

PERSDA NETWORK/BIAN HARNANSA
Seorang wanita membaca buku "Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century" karya George Junus Aditjondro, di kediaman pribadi Presiden SBY di Puri Cikeas, Bogor, Sabtu (26/12/2009).

TERKAIT:

KOMPAS.com — Apa yang menimpa penulis buku Membongkar Gurita Cikeas, George Junus Aditjondro, menurut aktivis Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Massardi adalah korban politik catenaccio (bertahan habis-habisan) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ternyata betul dengan gaya persuasinya memancing George. Jadi memang ini sudah diskenariokan.
-- Adhie Massardi

Hanya saja, yang memancing George adalah orang dekat SBY yang tidak lain kawan dekatnya, yakni Ramadhan Pohan. Mengapa demikian?

Adhie menjelaskan, sejak naik menjadi Presiden, SBY sudah lama menerapkan politik bertahan lewat cara mendefinisikan dirinya seperti orang yang teraniaya. "Kita mengenal SBY sudah cukup lama lewat politik keteraniayaan," ujar Adhie di Doekoen Coffee, Minggu (7/2/2010).

Terkait Ramadhan yang tiba-tiba datang pada acara bedah buku George beberapa waktu lalu, adalah pancingan alias serangan balik secara halus. Bahkan, Adhie sudah merasa kedatangan Ramadhan akan menimbulkan sesuatu. "Ternyata betul, dengan gaya persuasinya memancing George. Jadi memang ini sudah diskenariokan," sambung orang dekat Gus Dur itu.

Skenario inilah yang diterapkan dalam politik bertahan SBY, memasang Ramadhan untuk masuk diskusi George bukan untuk bedah buku, melainkan untuk mengalihkan isu. Hal ini pula yang berujung pada ditetapkannya George sebagai tersangka dengan sangkaan melakukan pemukulan dan penganiayaan terhadap Ramadhan.

"Akibatnya, publik jadi kurang simpati pada George, dan pembicaraan Gurita Cikeas yang ditulisnya kemudian berubah menjadi isu pemukulan," urainya.

Menurut Adhie, bukan saja SBY yang menerapkan pola cattenacio, melainkan juga Partai Demokrat yang dipimpinnya. Adhie mencontohkan peran Ruhut Sitompul di Panitia Khusus Kasus Century yang terlihat sangat baik. Katanya, "Ruhut Sitompul bukan saja berhasil dipasang untuk memancing emosi dan untuk menjegal anggota Pansus yang kritis, tapi juga membuat Pansus jatuh di mata masyarakat."

Isu terbaru semakin kuatnya gaya politik cattenacio adalah ketika SBY mengkritik aksi demonstran yang membawa kerbau pada 28 Januari 2010 lalu. Merasa dirinya disamakan dengan kerbau, menurut Adhie, adalah setting SBY sendiri. SBY seolah-olah dikerbau-kerbaukan, padahal tidak ada. "Jadi dengan cara teraniaya inilah politik cattennacio bermain," ujarnya.

Politik cattenacio yang demikian, Adhie mengatakan, harus dihentikan. Sebab, politik seperti ini sangat menjijikkan. "Dia naik dengan cara politik menjijikkan. Setiap kali mendapat kewalahan pasti nanti ada serangan baliknya. Saya kira politik seperti ini harus dihentikan," pungkasnya.

Sumber :
Persda Network
Advertorial
»