JAKARTA, KOMPAS.com — Wajah Haryo (57) tampak lelah. Beberapa malam ini ia kurang tidur. Sibuk mengepak barang dan berjaga kalau-kalau eksekusi rumahnya di Kompleks Otista III, Jakarta Timur, dilakukan secara tiba-tiba.
Haryo adalah putra purnawirawan TNI Almarhum Kolonel (Purn) Rumantiyo, yang mendapatkan tanggal jatuh tempo pengosongan rumah dinas tersebut pada 8 Februari 2010. Ia mengaku sebenarnya tak terlalu siap meninggalkan rumah yang sudah ikut didiami bersama orangtuanya sejak tahun 1957 tersebut. Surat permohonan penundaan sudah diajukan, tetapi tak mendapatkan respons.
Sebelum pemberitahuan eksekusi keluar, ia mendapatkan beberapa surat, di antaranya surat sosialisasi dan panggilan menghadap. Namun, dialog berjalan kaku.
“Saya sudah minta penundaan, tapi tidak ada jawaban dari Kodam Jaya. Saya malah berharap Kodam menunda karena kedatangan Obama. Katanya, TNI harus terlihat baik menjelang Obama datang? Siapa tahu biar terlihat berperikemanusiaan, pengosongan rumah saya ditunda,” kata Haryo, Minggu (7/2/2010) kepada Kompas.com, di rumahnya, Jalan Otista III H-132, Jakarta Timur.
Selanjutnya, ia berencana akan pindah ke kontrakan baru tak jauh dari rumahnya saat ini. Upaya hukum pun telah dilakukannya. Ia merasa, pengosongan tanpa uang penggantian tersebut tidak adil. Proses hukum tengah berlangsung di pengadilan. Haryo mengatakan, hal itu dianggapnya tidak memenuhi rasa keadilan sebab setengah abad dihuni, rumah sudah banyak mengalami perbaikan yang dibiayai dari uang pribadi.
“Agak anehlah, masak sedikit pun tidak ada penggantian. Kodam bilang tidak ada uang sama sekali. Kalau ada kesempatan tawar-menawar, saya juga tidak berharap banyak kok. Untuk buat cari tempat tinggal di pinggiran Jakarta enggak masalah. Buat saya ini perampasan,” ujarnya.
Haryo tak akan melakukan perlawanan. Ia berharap ada kebijaksanaan dan win-win solution dari pihak Kodam Jaya bagi keluarga purnawirawan. Apalagi, menurut dia, pemanfaatan rumah dinas yang sudah dikosongkan tidak seperti alasan yang diungkapkan, yaitu untuk kebutuhan prajurit TNI.
Kenyataan yang dilihatnya, tak sedikit mantan pejabat tinggi TNI yang justru memiliki rumah lebih dari satu di kompleks tersebut. Sejumlah nama disebutkannya. “Katanya butuh banyak rumah, tapi mantan pejabat TNI yang punya rumah dua atau tiga di sini kenapa dibiarkan? Yang dijadikan sasaran yang kayak kami gini,” kata Haryo.

