KOMPAS.com - Ayo, ayo, saatnya menggunakan hati nurani! Ayo, hati nurani rakyat ada di sini!”
Teriakan yang cukup lantang itu berasal dari salah satu bagian Hotel Shangri-La, Surabaya, Jawa Timur, tepatnya dari lantai di atas ballroom hotel. Sejak tanggal 5 sampai 7 Februari 2010, sekitar 1.500 kader Partai Hati Nurani Rakyat menjadi peserta dan peninjau Musyawarah Nasional I Hanura, yang diselenggarakan di ballroom itu.
Tetapi, jangan salah, teriakan itu bukan berasal dari juru kampanye. Mereka adalah pedagang yang menawarkan barang dagangan berupa kaus, kemeja, dan jaket. Ada juga yang berjualan pin, stiker, topi, dan hiasan dinding. Tentu saja, barang-barang itu merupakan atribut Hanura. Entah warnanya yang kuning, seperti unsur warna di lambang Partai Hanura, atau bertempelkan bordiran lambang Hanura.
Sepanjang munas, kader Hanura memang menjadi penggemar warna kuning. Kemeja kuning, jaket kuning, kaus kuning, serta tas seragam dari panitia yang berwarna hitam-kuning. Dekorasi panggung tempat berlangsungnya munas berwarna merah dan oranye. Serasi dengan karpet ballroom yang berwarna kuning dengan motif warna ungu, merah, dan putih.
Di selasar hotel bintang lima itu, beberapa pedagang mengadu untung, berjualan barang-barang berwarna kuning. Setiap saat, ada saja peserta dan peninjau munas yang mampir ke meja pedagang. Bertanya-tanya, lalu menawar. Ada yang berakhir dengan transaksi, tetapi ada yang tidak.
Dipastikan, setiap kali menjelang atau setelah acara sidang pleno, selasar itu dijubeli pengunjung. Pedagang pun sibuk melayani. Lokasinya memang strategis karena dilewati orang dari ballroom menuju kamar hotel atau lobi dan sebaliknya.
Ahmad, Deden, dan Syafrudin, misalnya, bekerja sama menjual kaus, kemeja, dan jaket kulit. Barang dagangan sebanyak lima karung goni itu mereka bawa dari kawasan perdagangan Pasar Senen, Jakarta, ke Surabaya menggunakan kereta api. Mereka bertiga sehari-harinya berjualan baju di Pasar Senen.
Ahmad menuturkan, setiap ada munas partai politik, seminar, atau acara apa pun yang menimbulkan kumpulan orang di gedung atau hotel, mereka berdagang baju. Kali terakhir, mereka berjualan kaus, kemeja, dan jaket di Kongres Partai Amanat Nasional di Batam.
Ibaratnya, di mana pun ada munas, mereka akan kejar. Mereka pun sudah memantau jadwal dan menghubungi panitia pelaksana jauh-jauh hari sebelum acara digelar sehingga bisa menyiapkan barang dagangan. Bekerja sama dengan perusahaan konfeksi yang juga memasok dagangan mereka di kawasan Senen, barang dagangan yang dibawa diyakini sesuai dengan selera peserta munas.
”Kalau di Kongres PAN kemarin, kami untungnya sedikit. Dapat Rp 15 juta, pengeluaran juga besar karena mesti naik pesawat. Biaya sewa stan juga mahal, Rp 3 juta untuk tiga hari. Kalau di Hanura murah, Rp 1 juta untuk tiga hari,” kata Ahmad, Jumat (5/2/2010).
Dengan barang dagangan
Iman, salah seorang pedagang, mengaku memang khusus berjualan saat munas, kongres, atau acara partai lainnya. Barang dagangannya pun kaus, kemeja, dan jaket, tentu saja berwarna kuning. Ada juga kemeja batik, bercorak coklat atau merah, serta warna kuning.
Ditemui Kompas Jumat malam, Iman sedang mengutak- atik telepon selulernya. Tak
Iman membawa 15 koli
Sabtu siang, Ali Hanafie (Ketua Dewan Pimpinan Cabang Hanura Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah), mengamat-amati kemeja dan jaket kulit. Mau belanja, Pak Ali? ”Iya, tapi nantilah. Soalnya di tempat saya tak ada yang seperti ini,” kata Ali tersenyum.
Ayo, ayo, ini hari terakhir munas....

