JAKARTA, KOMPAS.com — Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Amir Syamsuddin, Jumat (5/2/2010), mengatakan bahwa dia bersama rekan-rekannya telah mengajukan usulan reshuffle atau perombakan kabinet terhadap menteri yang berasal dari partai koalisi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, anggota koalisi, pun langsung mempersilakan SBY yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat untuk melakukan evaluasi dan perombakan kabinet. Situasi memanas ini terjadi pada minggu-minggu terakhir Pansus Hak Angket Kasus Bank Century menyusun rekomendasi akhir.
Ada apa sebenarnya di balik wacana perombakan itu? Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi mengatakan, ancam-mengancam ini merupakan bagian dari perang psikologi antara PD, Golkar, dan PKS.
"Saya melihat pernyataan ini belum menjadi keputusan resmi parpol. Ini masih sebatas perorangan. Ini masih gertak sambal," ujarnya kepada Kompas.com, Sabtu (6/2/2010) di Jakarta.
Burhanuddin mengatakan, wacana perombakan itu muncul lantaran Partai Demokrat semakin gerah dengan sikap beberapa elite Golkar dan PKS garis keras, seperti Bambang Soesatyo-Aziz Syamsuddin dan Fahri Hamzah-Anis Matta yang mengambil posisi oposisi dan vokal terkait kasus Bank Century.
Bahkan, para politisi ini tak segan untuk melakukan serangan balik ke SBY. Hal ini misalnya tecermin ketika mereka mengatakan tak gentar dengan adanya rencana perombakan kabinet.
Sebenarnya, ada apa di balik sikap garang Golkar dan PKS? Burhanuddin menduga hal ini berkaitan dengan posisi Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Wacana perombakan menunjukkan belum adanya kesepakatan mengenai hal ini antara PD serta Golkar dan PKS.
SBY sendiri saat ini menunjukkan sikap hendak mempertahankan Boediono dan Sri Mulyani. Kedua pejabat publik ini ditenggarai melakukan kesalahan dalam proses kebijakan pengucuran dana talangan Rp 6,7 triliun.
Saat ini, PD memang tengah membutuhkan dukungan penuh Golkar dan PKS, terutama dalam mengantisipasi upaya impeachment atau pemakzulan. Jika Golkar dan PKS akhirnya merapat ke kubu PDI-P, Gerindra, dan Hanura, maka upaya pemakzulan semakin terbuka.
Burhanuddin mengatakan, pada dasarnya Golkar dan PKS yang disebut-sebut anak nakal dalam koalisi pun saat ini memasang sikap saling mewaspadai.
"Jika misalnya Golkar diam-diam menelikung dan membuat deal tersendiri dengan Partai Demokrat dan SBY, PKS bisa habis. PKS bisa dianggap anak nakal sendirian, dan kursi menteri PKS dapat diserahkan ke mitra koalisi lainnya. Maka dari itu, Golkar dan PKS saling tunggu. Mereka tidak mau sendirian menjadi duri dalam daging," kata Burhanuddin.

