JAKARTA, KOMPAS.com — Polemik seputar aksi unjuk rasa yang menampilkan seekor kerbau pada peringatan 100 hari pemerintahan SBY-Boediono yang lalu masih belum berakhir. Sikap Presiden SBY yang mengeluhkan etika para demonstran yang dianggapnya telah menganalogikan dirinya sebagai kerbau mendapat tanggapan pro dan kontra di banyak kalangan masyarakat.
Pengamat komunikasi politik Prof Tjipta Lesmana memandang dari segi lain. Dari sisi mitologi mengenai hewan kerbau yang berkembang di daratan China, Tjipta mengatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mestinya bangga jika dianalogikan sebagai kerbau.
Ia menceritakan, seusai mendengar pidato presiden terkait aksi demo tersebut, ia pun menelepon seorang biksu untuk menanyakan apa sebenarnya makna dari seekor kerbau itu. "Dan ternyata, SBY harusnya bangga kalau dikatakan kerbau karena, dalam mitologi China, kerbau itu adalah hewan yang paling tangguh, pekerja keras. Tidak ada hewan yang pekerja keras lainnya seperti kerbau," kata Prof Tjipta dalam sebuah acara diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (6/1/2010).
Demikian pula dalam kisah-kisah Jawa. Menurutnya, banyak cerita yang menggambarkan kerbau sebagai hewan yang memiliki kekuatan dan sulit untuk dikalahkan. "Makanya, tidak ada alasan untuk merespons itu sebagai hal yang negatif," ujarnya.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, anggota Komisi I DPR Ramadhan Pohan memberikan pandangan yang berbeda. Politisi Demokrat ini menilai sikap Presiden sudah tepat dan menyampaikan apa yang memang perlu disampaikan.
Presiden, kata Ramadhan, tidak melakukan tindakan represif yang berlebihan tetapi justru demokratis dengan mempertanyakan kepantasan aksi unjuk rasa seperti itu. "Presiden hanya mengatakan rambu-rambu yang sudah dikatakan oleh agamawan dan budayawan. Kitalah yang harus perhatikan etika," ujarnya.

