Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 14:04 WIB
Wiranto: Kasus Century Tambah Rumit
Afrizal Akbar | made | Jumat, 5 Februari 2010 | 20:54 WIB
|
Share:

SURABAYA, KOMPAS.com - Ketua Umum DPP Partai Hanura Wiranto menilai kasus skandal Bank Century kini kian rumit, karena dari kasus yang awalnya yang sebenarnya sederhana, malah berkembang menjadi kabur. Menurtu Wiranto, ini merupakan gambaran terkini potret bangsa Indonesia, di mana pergulatan antara kepentingan politik dan hukum, harapan rakyat dan tindak elit politik, serta pertarungan kejujuran dengan kebohongan saling beradu.

Sudah banyak bukti kuat di depan mata, malah pansus mencari bukti lain yang tidak jelas.

"Kasus Century telalu lama diperdebatkan. Sudah banyak bukti kuat di depan mata, malah pansus mencari bukti lain yang tidak jelas," tegas Wiranto pada Munas Hanura I/2010 di Hotel Shangri-La Surabaya, Jumat sore (5/2/2010).

Dengan berlarut-larutnya kasus bailout Bank Century senilai Rp 6,7 triliun, kata Wiranto, kerap dianggap wajar, sehingga banyak rakyat marah dan mengambil jalan pintas dengan berunjuk rasa.

"Penyelesaian masalah melalui Pansus DPR bukanlah upaya untuk menjatuhkan atau menyerang pejabat negara, melainkan langkah konstitusi mencari kebenaran. Selama kebenaran belum terungkap, jangan harap negeri ini bisa tenang dan tenteram," tegasnya.

Ia menambahkan, penanganan kasus ini prinsipnya lebih cepat lebih baik, semakin lambat penyelesaiannya akan semakin mahal harga yang dibayar negeri ini. "Modalnya sederhana yakni dengan kejujuran dan keberanian dalam mengambil risiko," katanya.

Kalaupun Partai Hanura saat ini masih tetap lantang mencari kebenaran melalui Pansus DPR, lanjut dia, bukan sesuatu yang luar biasa dan memang sebagai keharusan. "Hanura tidak terjebak kepada sekadar membidik para pejabat sebagai target. Hanura juga tidak akan kompromi dalam bentuk apa pun untuk mengatur batas gerak maju pansus. Kami akan tegas memiliah, mana kebenaran hukum dan mana yang kepentingan politik," pungkasnya.

Advertorial
»