Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 13:58 WIB
Seperlima Produksi Nasional Kakao dari Sulawesi Barat
Josephus Primus | primus | Rabu, 27 Januari 2010 | 21:58 WIB
|
Share:

MAMUJU, KOMPAS.com — Sulawesi Barat menjadi salah satu daerah penyumbang produksi kakao nasional dengan tingkat kontribusi mencapai 20 persen. "Komoditas kakao di Sulawesi Barat telah berhasil menyumbangkan 20 persen produksi nasional sebesar 150.427 ton ," kata Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh dalam acara peluncuran fermentasi kakao di ruangan pola gubernuran Sulawesi Barat, Rabu (27/1/2010).
 
Anwar menuturkan, Sulawesi Barat (Sulbar) merupakan salah satu provinsi yang memberikan kontribusi besar terhadap perkakaoan nasional. Hal ini menjadikan Indonesia tercatat sebagai salah satu negara penghasil kakao utama di dunia.
 
Di Sulbar, dia mengatakan bahwa kakao merupakan komoditas perkebunan yang  paling penting dan telah menghidupi sekitar 65 persen dari total penduduk yang ada di lima kabupaten. "Kontribusi kakao Sulbar sebesar 20 persen. Jika dibandingkan produksi nasional, maka angka itu sesungguhnya masih sangat kecil dan bahkan bisa mencapai 23 atau 24 persen. Bayangkan saja, tingkat produksi kakao kita saat ini sebesar 150.427 ton dengan produktivitas antara 700 kilogram per hektar hingga 900 kilogram per hektar sudah cukup bagus dan bisa melampaui hitungan 20 persen tersebut," ungkapnya.

Ia mengatakan, Sulbar selaku penggagas program Gernas Prokakao pada 2008 telah memberi dampak besar terhadap daerah lain, khususnya yang ada di kawasan timur Indonesia. "Meski kami yang memperjuangkannya, manfaatnya dapat dirasakan petani kami yang ada di daerah lain karena menjadi salah satu produk yang diimplementasikan secara nasional," kata dia.
 
Dengan demikian, ia mengatakan bahwa program Gernas Prokakao itu adalah hal yang harus didukung agar sukses dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas kakao untuk kesejahteraan petani. "Untuk mendapatkan mutu kakao yang bernilai ekspor, mutu kakao kita harus diperbaiki melalui fermentasi kakao," ujarnya.
 
Anwar mengatakan, dengan menerapkan cara fermentasi kakao, kualitas dapat dipastikan akan lebih baik dibanding harus melalui cara tradisonal. "Harga kakao fermentasi dan nonfermentasi berbeda jauh ibarat bumi dan langit," katanya.
 
Dengan begitu, cara fermentasi ini harus terus disosialisasikan kepada petani yang ada di wilayah pelosok melalui sosialisasi yang intens dari petugas dinas perkebunan.

Sumber :
ANT
Advertorial
»