JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua DPR Marzuki Alie, yang berasal dari Fraksi Demokrat, ditanyai mengenai aksi anggota sefraksinya, Ruhut Sitompul, yang kerap menimbulkan kontroversi di Pansus Angket Kasus Bank Century. Setelah melontarkan umpatan "bangsat", pada Kamis kemarin Ruhut juga diprotes anggota Pansus karena menggunakan identitas budaya saat menanyai mantan Wapres Jusuf Kalla. Masih banyak lagi aksi Ruhut yang dinilai sesama anggota Pansus sangat mengganggu dinamika kerja Pansus sendiri. Apa Ruhut sengaja dipasang untuk mengacaukan?
"Saya mengawasi jalannya Pansus. Dinamikanya (aksi Ruhut) biasa-biasa saja. Kalau masalah yang dengan Pak Gayus, 'setan' dan 'bangsat' saya kira hampir sama. Jadi dua-duanya harus introspeksi," kata Marzuki, Jumat (15/1/2010) di Gedung DPR, Jakarta.
Menyikapi persoalan antara keduanya, dalam konsultasi Pimpinan DPR dan Pimpinan Badan Kehormatan, keduanya akan dipanggil oleh BK. Namun, waktunya belum ditentukan. Marzuki sempat menyinggung, sebagai pimpinan rapat, Gayus seharusnya juga bisa mengendalikan emosi.
"Saya juga sering dicerca di rapat, tapi saya tidak mudah terbawa emosi. Kemarin itu kan karena pimpinannya juga emosi," ujarnya.
Pendapat berbeda diungkapkan Marzuki terkait cara bertanya para anggota Dewan. Pertanyaan mencecar dan kerap memotong jawaban narasumber harus dievaluasi. Ketika wartawan juga menyuguhkan fakta seringnya Ruhut melakukan hal yang sama, Marzuki menjawab singkat, "Kita kan tidak mengawasi keseluruhan jalannya Pansus."

