Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 01:24 WIB
Desakan Lakukan Evaluasi terhadap Mitra Koalisi Makin Kuat
Inggried Dwi Wedhaswary | ksp | Jumat, 15 Januari 2010 | 15:10 WIB
|
Share:

KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono beserta jajaran Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II berfoto di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (22/10). Benarkah akan ada perombakan kabinet?

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Desakan untuk melakukan evaluasi terhadap mitra koalisi pemerintah semakin kencang berembus. Evaluasi ini diyakini sebagai imbas dari "galaknya" mitra koalisi dalam Pansus Angket Kasus Bank Century. Isu reshuffle kabinet pun merebak.

Intinya, SBY akan memastikan format koalisi yang kuat, termasuk mempertimbangkan perampingan postur koalisi.
-- Burhanuddin Muhtadi

Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi menilai, peluang reshuffle dalam evaluasi koalisi oleh Partai Demokrat masih fifty-fifty. Wacana evaluasi diembuskan hanya untuk memberikan tekanan psikologis. 

"Evaluasi koalisi lebih merupakan tekanan psikologis kepada mitra koalisi yang kini dipusingkan dengan tingkah polah koalisi yang sulit didisiplinkan dalam kasus Century. Intinya, SBY akan memastikan format koalisi yang kuat, termasuk mempertimbangkan perampingan postur koalisi," kata Burhanuddin. 

Opsi koalisi, ujarnya, salah satunya dengan merombak anggota kabinet dari partai politik yang susah diatur. Namun, ia menduga, tujuan evaluasi koalisi untuk memecah kekompakan mitra koalisi. 

"Mereka yang sebelumnya dalam kasus Century sangat kompak bermain sendiri bisa berpikir seribu kali. Elite-elite koalisi yang sekarang duduk sebagai anggota kabinet bisa melakukan intervensi ke anggota mereka di Pansus agar melunak," ujarnya. 

Gelagat melunaknya beberapa anggota Pansus, menurut Burhan, terlihat dari berkurangnya "nyali" untuk menghadirkan Presiden SBY dalam rapat Pansus. Keputusan pimpinan DPR untuk tidak meneruskan imbauan nonaktif kepada Boediono dan Sri Mulyani juga dianggap sebagai bukti lain. Ia khawatir hal ini akan menjadi gejala awal Pansus mulai "masuk angin".