KOMPAS.com — Ini seakan-akan, di ujung dunia ini, masyarakat Jawa telah mengambil sifat paling peramah dan membebaskan diri dari aliran-aliran agama yang datang dengan caranya sendiri dan menjadikannya sebagai milik bersama.
Demikian sepenggal tulisan sastrawan Inggris, VS Naipaul, dalam karyanya, Among the Believers (2001). Dalam kacamata Naipaul, egalitarianisme masyarakat Jawa dalam memandang dan memperlakukan keberagaman agama sangat lekat. Bahkan, aliran yang datang kemudian diakui sebagai bagian dari hidup mereka untuk sebuah tujuan keselarasan.
Apa yang dikemukakan Paul dalam esai yang memberikannya anugerah Nobel Sastra tahun 2001 ini barangkali sebagian pas untuk menggambarkan begitu mudah merebaknya benih-benih terorisme hingga ke relung pedesaan di Jawa Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Benih tersebut bersemai dengan aliran keagamaan tertentu yang menempatkan fanatisme sempit sebagai jalan sucinya.
Tak pernah mengira, begitulah kalimat yang lazim dinyatakan oleh para warga yang tinggal di sekitar rumah buron teroris di wilayah Jateng kala mengetahui tetangga mereka yang alim, pendiam, dan tak neko-neko itu ternyata terkait jaringan terorisme. Kalaupun ada kejanggalan yang warga rasakan dari tetangga mereka itu, hal tersebut hanya terkait dengan ketertutupan dalam pergaulan sehari-hari, dan atribut pakaian tetangga mereka. Selebihnya, mereka menerima apa adanya tetangga mereka yang tertutup itu beserta aktivitas keagamaannya yang berbeda.
Tahun 2009 menunjukkan kepada kita, betapa sebenarnya benih yang tak kita sadari itu telah menyebar ke berbagai arah di wilayah Jateng. Jaringan teroris sepertinya sangat paham dengan kondisi sosial masyarakat yang semacam itu. Kealiman sosial masih dilihat sebagai sesuatu yang tak semestinya menjadi keranjang kecurigaan. Bahkan, meskipun di daerah itu tak mempunyai basis keagamaan yang kuat.
Pengungkapan jaringan terorisme di Binangun, Cilacap, adalah salah satu contoh kepintaran pelaku jaringan terorisme mengembangkan dirinya. Di tempat itulah, Noordin M Top selama tiga tahun mengendalikan jaringannya tanpa sekalipun dicurigai warga sekitar. Bahkan, gembong teroris tersebut menikah dengan Arina, anak Bahrudin Latif atau Baridin, tokoh agama setempat, dan mempunyai dua anak.
Sosok Bahrudin yang alim, suka menolong namun supertertutup terhadap tetangga-tetangganya, khususnya terkait menantu dan aktivitasnya, menjadi tirai teduh yang membangun keengganan sekaligus keseganan masyarakat sekitarnya untuk bertanya lebih jauh.
"Saya pernah menanyakan soal menantunya itu dan meminta KTP-nya, tapi Baridin tak memberikan jawaban. Saya membiarkan dan percaya saja karena dia adalah tokoh agama di sini. Lagi pula dia orang asli sini, masa enggak percaya," ujar Watim Suseno, Kepala Desa Pasuruhan, Kecamatan Binangun.
Bagi masyarakat sekitar, orang seperti Baridin, Syaifuddin Juhri (tersangka teroris asal Nusawungu, Cilacap), Mistam (tersangka teroris asal Kutasari, Purbalingga), bukanlah pengganggu. Ketertutupan mereka telah dibayar dengan kemauan mereka mengajari anak-anak sekitar untuk mengaji. Akibatnya, saat akhirnya kedok mereka terbongkar, warga pun kaget.
Di wilayah Banyumas dan sekitarnya, kesadaran semacam itu sempat menumbuhkan sikap antipati warga kepada pendatang yang memakai atribut tertentu. Serangkaian penangkapan massal sempat dilakukan terhadap sejumlah kelompok pengajian yang tak dikenal. Namun, fenomena tersebut hanya bertahan 2-3 bulan sejak kasus penangkapan terjadi.
Di tengah masyarakat, masih lekat kesan pelaku terorisme adalah pahlawan agama. Menurut seorang dosen Filsafat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto, Mahfudin Yusuf, kesan itu tak mudah hilang selama jajaran kepolisian juga tidak membenahi citranya sebagai pengayom masyarakat.
Dengan mengamati perilaku para pelaku teroris, menurut Mahfudin, pada umumnya mereka menunjukkan sikap santun. Bahkan pelaku teroris Abu Dujana yang diringkus di rumahnya di Desa Kebarongan, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, kerap menyeberangkan anak-anaknya saat berangkat sekolah bersama aparat polisi yang berjaga.
"Dengan perilaku yang santun seperti itu, siapa yang dapat mengira dia adalah salah satu pelaku laskar jihad di Poso," katanya.
Arogansi dan ketidakadilan
Hanya dalam tataran ideologi, jelas Mahfudin, para pelaku teroris itu menunjukkan kejahatannya. "Mereka jahat hanya pada tataran ideologi. Lepas dari itu, mereka adalah masyarakat biasa yang cenderung santun," katanya.
Kesantunan itu tentunya mendapatkan simpati dari warga sekitar. Itulah yang menyebabkan setiap kali penangkapan pelaku teroris selalu diikuti keterkejutan dari warga setempat.
Kadar paham Islam yang cukup kental pada beberapa kelompok masyarakat seperti di beberapa kecamatan di Banyumas dan Cilacap juga mempermudah proses penerimaan para pelaku teroris di tengah masyarakat. Selain itu, kondisi sosial masyarakat di Jawa pada umumnya memang cukup terbuka dan toleran terhadap orang asing.
Sementara itu, Mahfudin mengungkapkan bahwa pengalaman masyarakat terhadap jajaran kepolisian lebih banyak didominasi dengan rasa ketidakadilan, meskipun itu masalah kecil. Salah satunya pungutan liar pada tindakan penilangan di jalan raya. Polisi yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat malah meresahkan masyarakat.
"Dengan pengalaman seperti itu, masyarakat jadi lebih simpati terhadap teroris dibandingkan terhadap polisi," katanya.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap pelaku teroris, kepercayaan masyarakat terhadap aparat kepolisian juga harus dibangun. Pemerintah juga harus terus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga masyarakat tak mudah disusupi oleh ideologi yang menyesatkan. (M Burhanudin/Madina Nusrat)

