Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 13:31 WIB
PBNU: "Infotainment" Gosip Haram
PersdaNetwork / Dayat | hpr | Sabtu, 26 Desember 2009 | 07:24 WIB
|
Share:

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi (kanan) dan pengurus PBNU bersilaturahim ke Kantor Redaksi Harian Kompas , Jakarta, Kamis (16/7). Mereka diterima oleh Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun beserta jajaran redaksi. Kedatangan PBNU, antara lain, untuk menjelaskan rencana penyelenggaraan Muktamar Ke-32 NU pada Januari 2010.

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU KH A Hasyim Muzadi menegaskan bahwa tayangan infotainment gibah atau gosip adalah haram.

Fatwa haram tersebut berdasarkan hasil Musyawarah Alim Ulama NU di Surabaya, Juli 2006. Karena itu, PBNU mendesak tayangan infotainment gosip segera dihentikan. Pemberitaan yang mengobral masalah pribadi dan keluarga orang bisa berdampak buruk bagi masyarakat.

"PBNU minta agar tayangan infotainment di media dihentikan, yaitu pemberitaan yang mengobral rahasia keluarga, serta mengaduk-aduk hubungan antar-anggota keluarga," kata KH Hasyim Muzadi dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Jumat (25/12/2009).

Menurut pengasuh pondok pesantren Al-Hikam ini, infotainment gosip merupakan pembunuhan karakter orang yang diberitakan, apa pun alasannya.

"Karena hal tersebut sama sekali tidak menjadi bagian dari kebebasan dan demokrasi, tetapi menjadi bagian dari pembunuhan karakter dalam kerukunan atau ketenangan keluarga," ungkapnya.

Dalam Islam, menurutnya berita gosip merupakan larangan keras atau hukumnya haram. "Bahkan diibaratkan dalam Al Quran sebagai seorang yang 'tega memakan daging bangkai saudaranya sendiri' dalam mencari rezeki," ujarnya.

Karena itu, menurutnya, orang atau keluarga yang merasa dirugikan terhadap pemberitaan infotainment gosip sebenarnya berhak menuntut rehabilitasi terhadap nama baiknya dalam kaitannya dengan hak asasi manusia. "Media harus segera menghentikannya daripada setiap hari makan korban," ungkapnya.

Hasyim mengajak para pengelola infotainment untuk mencari rezeki yang halal di tengah sulitnya ekonomi bangsa Indonesia, bukan dengan cara "menjual" berita-berita gosip.

"Kalau ada orang senang keluarganya diaduk-aduk untuk cari popularitas, justru orang tersebut tidak normal. Marilah kita mencari rezeki secara halal dalam sulitnya ekonomi saat ini," katanya.

Lebih lanjut, kiai kelahiran Bangilan, Tuban, ini mendesak pemerintah, dalam hal ini Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), untuk mengambil inisiatif dalam rangka menertibkan tayangan yang merusak tersebut. "Apalagi Pak Tifatul (Menkominfo) selama ini dianggap paling Islam," kata Hasyim. (Persda Network/yat)

Sumber :
Persda Network
Advertorial
»