Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 16:58 WIB
Kisah Pelarian Buron Teroris Baridin (2)
| wah | Jumat, 25 Desember 2009 | 21:36 WIB
|
Share:

GARUT, KOMPAS.com - Piroh (43) adalah warga Banyuasih yang mengetahui ihwal kedatangan Baridin ke kampungnya pada Juli 2009. Menurut Piroh, Baridin, yang dikenalnya sebagai Usmani, datang datang ke Kampung Banyuasih pada 4 Juli 2009 atau sehari sebelum Pemilu Presiden. Saat itu, Usmani datang seorang diri dan menginap di Masjid Banyuasih.

Di masjid itu, Usmani bertemu dengan suami Piroh, Agus Suharna (65). Kepada Agus, Usmani mengaku datang dari Yogyakarta. Usmani juga minta diberi tempat untuk tidur dan mau bekerja apa saja, asal diberikan tempat berteduh dan makan seadanya kepada Agus.

"Karena kasihan, suami saya membawa Usmani ke rumah kami dan mulai tinggal bersama kami sejak saat itu," kata Piroh.

Genap satu bulan tinggal bersama mereka, tiba-tiba datang seseorang bernama Arif alias Mamat yang diakui Usmani sebagai anaknya ke rumah keluarga Piroh. Menurut Piroh, awalnya orang yang mengaku anak Usmani itu mengaku bernama Arif. Namun Usmani selalu memanggilnya Mamat. "Jadi saya juga memanggilnya Mamat," katanya.

Usmani dan Mamat tinggal di rumah Piroh kurang lebih selama 50 hari. Selama itu, Usmani dan Mamat rela bekerja apa saja asal diberi makan dan upah seadanya. Menurut Piroh, Usmani bekerja serabutan di rumah mereka dengan imbalan per hari semampu mereka. "Kadang memberi 10 ribu kadang 20 ribu, itu pun kalau kami punya uang lebih," ujarnya.

Setelah 50 hari tinggal bersama mereka, Usmani minta dibuatkan saung karena ingin memisahkan diri dari keluarga Piroh. Agus dan Piroh pun menyetujuinya dan membuatkan saung untuk Usmani dan anaknya.

Akhirnya, menurut Piroh, kurang lebih dua minggu lalu, Usmani meminta dibuatkan gubuk karena ingin menjadi tukang pembuat gula aren. "Karena kasihan, kami pun membuatkan gubuk kecil itu untuk Usmani dan anaknya karena ingin mandiri dan belajar menjadi pembuat dan penjual gula. Kami menghabiskan biaya kurang lebih Rp 2 juta untuk membangun gubuk bilik itu untuk Usmani, termasuk beberapa perabotan yang kami belikan untuk dia," ujar Piroh.

Namun Piroh tidak menyangka, baru seminggu lebih Usmani belajar menjadi pembuat gula, dia terburu disergap oleh Tim Densus 88. Piroh juga tidak mengetahui sama sekali bahwa Usmani alias Baridin adalah mertua Noordin M Top dan menjadi buron polisi selama ini.

"Saya sama sekali tidak menyangka, sebab selama ini dia dikenal rajin ibadah dan baik. Tapi memang selama ini dia dan anaknya terlihat sangat tertutup dan jarang bicara," katanya. (TRIBUN JABAR/SET)