GARUT, KOMPAS.com - Baridin alias Bahrudin Latif, mertua almarhum Noordin M Top, gembong teroris yang tewas beberapa waktu lalu, ditangkap aparat Densus 88 Mabes Polri di Kampung Banyuasih, Desa Pamalayan, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Kamis (24/12/2009) sekitar pukul 05.00. Ia bersembunyi di sebuah rumah panggung kecil di tengah perkebunan kelapa dan menyamar sebagai pedagang gula merah.
Lokasi persembunyian itu berada sekitar 500 meter dari stasiun peluncuran roket milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Selain Baridin, Densus pun menangkap anak Baridin, Ata (20), yang juga berada di lokasi persembunyian. Saat ditangkap, Baridin tidak melakukan perlawanan. Buron yang kabur dari Cilacap enam bulan lalu itu sudah diintai Densus sejak tiga bulan lalu.
"Benar ditangkap di Garut Selatan bersama anaknya, Ata (20)," kata Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri Komisaris Jenderal Ito Sumardi saat dihubungi, Kamis (24/12/2009).
Kapolres Garut AKBP Amur Chandra mengatakan, rumah panggung dari kayu dan bilik yang ditempati Baridin hanya terdiri atas dari satu ruangan. "Hanya ada satu kamar di sana," kata Amur.
Menurut keterangan tetangga terdekat Baridin, Samino (37), yang juga rekan Baridin sesama pekerja pembuat gula, ia tidak mengetahui bahwa Kamis subuh terjadi penyergapan di rumah persembunyian Baridin oleh Tim Densus 88. Ia mengaku sempat mendengar suara derap langkah kaki yang jumlahnya diduga lebih dari sepuluh orang mendatangi rumah Baridin yang hanya terletak sekitar 15 meter dari rumahnya.
Saat itu, Samino sempat melihat dari jendela kecil di rumahnya ke arah rumah Baridin. Terlihat sekelompok orang yang berkerumun di depan rumah Baridin subuh itu. Namun Samino mengaku tidak melihat jelas apakah sekelompok orang itu memakai seragam lengkap atau tidak.
"Waktu itu kan malam, suasana di sini sangat gelap. Yang saya lihat, hanya orang-orang berkerumun di depan rumah Usmani (Baridin, Red). Saya tidak bisa melihat dengan jelas, apakah mereka membawa senjata atau tidak atau memakai seragam atau tidak karena gelap sekali," terang Samino kepada Tribun Jabar.
Kepada sebagian warga, kata Samino, Baridin mengaku bernama Usmani. Namun kepada yang lainnya, Baridin memperkenalkan diri sebagai Didin Baharudin. Sementara Ata, anaknya, memiliki banyak nama panggilan antara lain Ujang, Arif, dan Mamat.
Menurut Samino, Baridin baru tinggal 10 hari di rumah panggung yang terbuat dari bilik dan berukuran hanya 2 x 3 meter itu. Selama ini, Baridin hanya mengaku sebagai pendatang dari Yogyakarta dan berniat belajar untuk membuat gula aren kepada dia.
Selama menjadi pembuat gula aren, Usmani selalu menitipkan gula hasil buatan kepada dia untuk dijual kembali ke pedagang di Ciamis, Pangandaran. "Ya itu, baru berlangsung hanya 10 hari," katanya
Baridin sehari-harinya berjualan keliling kampung. Warga pun tidak berprasangka apa pun terhadap Baridin dan anaknya karena bersikap biasa-biasa saja. "Menurut warga, dia menjual gula merah," ujar Amur.
Belum diketahui barang-barang apa saja yang disita petugas dari rumah panggung Baridin ini. Rencananya, dari Garut, Baridin dan Ata langsung dibawa ke Jakarta.
Baridin masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) atau buron sudah hampir setengah tahun. Ia diduga menyembunyikan Noordin M Top selama beberapa saat di rumahnya. Bahkan ia sempat menikahkan Noordin dengan anaknya, Ariani Rahma alias Arina, yang menghasilkan dua orang anak.
Pada Selasa 14 Juli 2009, atau sekitar tiga hari sebelum dua ledakan di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta, polisi menemukan beberapa peralatan pembuat bom di kediaman Baridin, di Cilacap.
Polisi menemukan alat-alat elektronik, kabel-kabel, lengkap dengan petunjuk rangkaian yang diduga alat membuat bom rakitan di kebun belakang Baridin, yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah. Alat membuat bom rakitan itu berada di dalam di jeriken biru, ditimbun dalam tanah.
Berita penangkapan Baridin membuat keluarga Baridin syok berat. Astuti, istri Baridin, dan Arina, anak Baridin, dikabarkan menangis setelah mendengar penangkapan Baridin.
"Sejak dengar kabar penangkapan itu, istri Pak Baridin menangis terus," ujar kemenakan Baridin, Aris Bunyamin, saat ditemui wartawan di rumahnya kompleks Pondok Pesantren Al-Muaddib, Desa Pasuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap.
Aris mengaku mendapat kabar penangkapan pamannya dari seseorang yang tak dikenal. Ia mendapat kabar melalui pesan pendek yang tak diketahui siapa pengirimnya. Isi pesan pendek tersebut, "Ustaz Baharudin tertangkap. Terima kasih," kata Aris menyebutkan isi pesan pendek yang diterimanya.
Pesan pendek tersebut, kata Aris, ia terima pada pukul 11.00. Selain Aris, lanjutnya, istri Baridin juga sudah diberitahu tentang penangkapan tersebut. "Mereka terus menangis setelah mendapat kabar itu," katanya.
Aris mengatakan, keluarga Baridin akan pergi ke Jakarta untuk melihat kondisi Baridin. Namun, ia enggan mengatakan kapan mereka akan menjenguk Baridin.
Astuti dan Arina sendiri enggan menemui wartawan. Rumah yang mereka tinggali bersama Noor Din dulu tampak sepi. Meski sepi, rumah tersebut tampak baru saja dibangun. Cat dan bangunan tembok tampak baru dibangun di beberapa bagian rumah. (Persda Network/ROY/SET)

