Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 00:13 WIB
Agama Bukan Sumber Perpecahan
| jimbon | Rabu, 23 Desember 2009 | 06:51 WIB
|
Share:

shutterstock
Ilustrasi: Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama, dan Menteri Pendidikan Nasional menyatakan akan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang pendidikan agama dan keagamaan guna menghindari adanya kesalahpahaman penyelenggaraan pendidikan agama di berbagai daerah.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Agama bukanlah sumber perpecahan dan disintegrasi yang terjadi selama ini. Konflik justru terjadi lantaran kesenjangan kesejahteraan, keadilan, dan kemiskinan sehingga perlu ada kerja sama antarumat beragama di bidang perekonomian dan pemberdayaan masyarakat.

Demikian salah satu pesan awal tahun 1431 Hijriah dan akhir tahun 2009 Masehi yang disampaikan para ulama se-Indonesia setelah mengikuti Rapat Koordinasi Nasional Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Hotel Sofyan Betawi, Cikini, Jakarta, Selasa (22/12/2009).

Para ulama berpendapat, penggambaran agama sebagai penyebab sejumlah konflik yang terjadi di Indonesia tidaklah benar. Konflik justru muncul akibat adanya ketimpangan di berbagai bidang.

”Masih ada ketimpangan kesejahteraan sosial, ketidakadilan, kemiskinan, ketimpangan akses pendidikan dan kesehatan-lah yang sesungguhnya menjadi sebab konflik,” ungkap Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Slamet Effendy Yusuf.

Intensifkan dialog

Oleh karena itu, para ulama berharap pemerintah turut berupaya mencegah konflik dengan melakukan pembangunan secara merata. Pemerintah harus bisa mewujudkan kemakmuran yang berkeadilan, serta keadilan yang berkemakmuran.

Upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengintensifkan dialog antarumat beragama di berbagai lini kehidupan. Kerja sama konkret di bidang perekonomian dan pemberdayaan antarumat beragama pun harus dilakukan guna menekan benih konflik.

”Kerja sama dalam bidang ekonomi itu merupakan horizon baru hubungan antarumat beragama sehingga kerukunan bisa terwujud dengan mudah,” kata Slamet, yang didampingi Manager Nasution dari MUI Provinsi Nusa Tenggara Timur serta pimpinan Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI pusat lainnya.(NTA)

Sumber :
Kompas Cetak