Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 06:48 WIB
Waduh, Pembuat Kebijakan Bisa Kapok karena Kasus Century
Laksono Hari Wiwoho | Edj | Senin, 21 Desember 2009 | 15:50 WIB
|
Share:

DHONI SETIAWAN
Aksi menuntut mundur Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani di depan Istana Wakil Presiden, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (2/12/09). Mereka mendesak kedua tokoh tersebut mundur dari jabatan karena diduga terlibat skandal Bank Century.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus Bank Century yang menyeret nama mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bisa berdampak buruk bagi para pengambil keputusan. Jika kasus ini dianggap sebagai pelanggaran maupun rekayasa, para pimpinan ekonomi bisa kapok mengambil keputusan yang menyangkut hal-hal berat semacam itu.

Hal tersebut disampaikan oleh mantan Sekretaris Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Raden Pardede dan Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia Halim Alamsyah di Jakarta, Senin (21/12/2009).

Raden mengatakan, jika keputusan yang diambil berdasarkan analisis mendalam terhadap gejolak pasar seperti saat KSSK memutuskan untuk menyelamatkan Bank Century, dianggap menyalahi prosedur atau bahkan direkayasa, hal itu akan membuat dampak berkelanjutan yang tidak baik.

Apalagi, menurutnya, kini beredar prasangka-prasangka negatif yang memojokkan Boediono dan Sri Mulyani dan berusaha membuat kedua orang tersebut mundur dari jabatannya. "Saat ini ada prasangka dan framing yang salah soal Bank Century. Itu bisa membuat orang kapok mengambil keputusan," kata Raden.

Senada dengan pernyataan Raden, Halim pun mengaku khawatir kasus ini justru bakal memukul para pengambil keputusan secara psikologis. "Kita ini serbasalah. Ambil keputusan salah, tidak ambil keputusan salah. Kalau begini caranya kita bisa kapok," ujarnya. Meski demikian, keduanya sepakat bahwa kasus ini harus dibuka untuk menunjukkan siapa yang melakukan pelanggaran dalam hal tersebut.