Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 23:00 WIB
Natal Jadi Ajang Penciptaan Rekor
| jimbon | Minggu, 20 Desember 2009 | 06:55 WIB
|
Share:

KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Sebanyak 1.001 cokelat Sinterklas dipamerkan di Atrium Plaza Indonesia, Jakarta, Sabtu (19/12). Pembuatan replika cokelat Sinterklas terbanyak ini dicatat sebagai rekor baru Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri).

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah pihak memanfaatkan momentum menjelang Natal 2009 dan tahun baru 2010 untuk membuat berbagai rekor. Langkah ini dipilih sebagai bagian dari promosi dan membangun pencitraan.

Menurut Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri), selama bulan Desember 2009 terdapat 45 rekor baru yang diakui. Rekor itu dibuat dari perorangan, lembaga pendidikan, hingga pusat perbelanjaan.

Plaza Indonesia di Jakarta, Sabtu (19/12), tercatat merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang membuat rekor untuk kemudian didaftarkan di Muri. Rekor mereka adalah membuat 1.001 buah patung sinterklas dari cokelat.

Untuk membuat 1.001 patung yang berukuran 15-30 sentimeter ini, manajemen Plaza Indonesia membutuhkan cokelat sebanyak satu ton dan waktu tiga bulan.

Manajer Pemasaran dan Komunikasi Plaza Indonesia Chorie Ariand mengatakan, semua patung akan dijual kepada masyarakat dengan harga Rp 50.000- Rp 100.000 per buah. Seluruh hasil penjualan diperkirakan lebih dari Rp 50 juta, akan disumbangkan kepada dua yayasan sosial.

Central Park di Jakarta Barat pada 12 Desember 2009 juga membuat rekor replika pohon Natal tertinggi di Indonesia, yaitu 35,5 meter.

Sonny Octarina, Media and Public Relation Officer Central Park, mengatakan, pemecahan rekor itu dimaksudkan untuk membangun citra tempat itu sebagai pusat perayaan Natal di Jakarta.

Menurut Sonny, pihaknya akan membuat rekor berikutnya untuk momen lain, seperti Imlek, Paskah, dan Lebaran.

Mal Kelapa Gading di Jakarta pada 25 Desember 2009 juga akan membuat rekor berupa roti sepanjang 150 meter. General Manager Corporate Communications PT Summarecon Tbk, pengelola Mal Kelapa gading, Cut Meutia, mengatakan, rekor sengaja dibuat saat Natal agar mendapat perhatian masyarakat.

Ketua Umum Muri Jaya Suprana menilai, tidak ada yang salah dengan pencitraan melalui membuat rekor yang didaftarkan ke Muri. ”Itu sah-sah saja sebagai bagian dari strategi promosi perusahaan,” kata dia.

Jaya lalu mencontohkan rekor pergelaran tari pendet dengan 1.000 penari di Bali yang disponsori perusahaan tertentu pada tahun 2009. Rekor itu mengukuhkan keyakinan pada dunia bahwa tari pendet memang milik bangsa Indonesia.

Sejak berdiri tahun 1990, Muri telah mencatat lebih dari 4.000 rekor dari berbagai bidang. Selain untuk pencapaian prestasi, rekor tersebut juga catatan mengenai kegiatan tertentu. (ACI/ELD/YOP)

Sumber :
Kompas Cetak