JAKARTA, KOMPAS.com- Anggota Perkumpulan Indonesian Corruption Watch Yanuar Rizki menilai hasil kerja Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam menelusuri aliran dana Bank Century tidak maksimal. Oleh karena itu, perlu dicari lembaga auditor independen agar hasil kerjanya maksimal.
Menurut Yanuar, auditor independen diperlukan guna pengungkapan aliran dana Bank Century lebih efektif. "Saya melihat ada kemampuan PPATK. Sekarang tinggal mau atau nggak mengungkap aliran itu. Kita masih ingat dengan Cesie Bank Bali di mana pemenangnya PWC. Di Cayman Island saja bisa ketemu. Sekarang tinggal biding saja atau ditenderkan. Cari siapa yang bisa mengerjakannya. BPK juga kalau alasannya karena kurang waktu itu tidak tepat. Bicara cuma tentang assesment," kata Yanuar Rizki usai menjadi pembicara dalam Seminar Century Gate di Wisma Antara, Jakarta, Sabtu (19/12/2009).
Ia menolak jika PPATK menyatakan bahwa transaksi tunai tidak bisa diendus. "Siapa bilang transaksi tunai sama sekali tidak bisa diidentifikasi. Misalkan anda ambil tunai di kanan dan keluar ke kiri. Tapi, kan harus balance kiri dan kanannya," ujarnya.
"Argumentasi yang dibangun sekarang itu bukan aliran dana. Kalau cuma nge-print doang mending jangan. Yang harus dikakukan itu audit penelusuran. Kalau nggak balance tinggal diambil (diperiksa)," katanya.
Ia juga mengkritik BPK yang katanya terbentur sistem. Ia mengungkapkan, ada beberapa auditor BPK yang memiliki sertifikat khusus (CISA) yang mempunyai kemampuan untuk menelusuri rekening secara elektronik. "Kalau bicara sistem, saya tahu beberapa auditor di BPK punya seritfikasi CISA," ungkapnya

