KOPENHAGEN, KOMPAS.com - Konferensi Perubahan Iklim PBB yang tengah berlangsung di Kopenhagen, Denmark, akan berakhir dalam tiga hari ini. Beberapa climate champions asal Indonesia yang dikirimkan British Council mencoba melakukan pendekatan ke Delegasi RI agar diberikan kesempatan melakukan intervensi dalam salah satu plenary session.
Keinginan itu sudah disampaikan oleh para delegasi muda sejak pekan lalu. Bersama para climate champions British Council, Goris Mustaqim dan Ibnu Najib, kami menemui Ketua Delegasi RI untuk membuka peluang intervensi, terutama dari dua duta muda yang juga menjadi wakil dari British Council dan Kementerian Lingkungan Hidup untuk menjadi shadowing assistance, Aaliyah dan Gracia.
Saat pertemuan, Ketua Delegasi RI, Rachmat Witoelar, menyambut baik keinginan tersebut. Tetapi, menurut Rachmat, hal tersebut harus dibicarakan terlebih dahulu dengan tim delegasi. "Karena kita juga harus tahu, mau intervensi dalam hal apa dan apa yang mau disampaikan harus sejalan," kata Rachmat.
Kendati demikian, Rachmat yang ditemui Kamis pekan lalu menjanjikan akan membahas hal tersebut memberikan kepastian sebelum pembahasan berakhir. Namun, hingga malam tadi, dan plenary sessions berakhir, kesempatan itu belum juga datang.
Aaliyah dan Gracia selesaikan tugas
Dua duta iklim British Council lainnya yang menjadi bagian dari shadowing assistance team bersama Kementerian Lingkungan Hidup, Aaliyah dan Gracia sudah menyelesaikan tugasnya. Gracia yang bertugas menjadi observer dalam negosiasi AWG-LCA capacity building mengungkapkan, proses negosiasi yang diamatinya berjalan alot.
"Saat pembahasan capacity building itu, ada stagnasi dimana ada delegasi yang walk out . Ternyata, persoalannya jauh lebih kompleks dan rumit. Susah untuk menemukan titik kesepakatan," ujar Gracia, yang sebenarnya berharap bisa melakukan intervensi di salah satu sesi.
Dari proses yang diamatinya, ia juga melihat bahwa untuk merumuskan kebijakan, terdapat perbenturan kepentingan yang cukup besar. "Jadi negosiator itu enggak mudah. Tapi pesannya, seharusnya ada nilai moral yang bisa menjadi titik temu untuk mencapai kesepakatan. Tidak bisa dipungkiri, power and interest sangat menentukan disini," kata gadis asal Surabaya, Jawa Timur ini.
Hasil dari pantauannya, diyakini Gracia akan membawa pengalaman positif untuk dibagikan di Tanah Air. Sementara itu, Aaliyah, mengamati jalannya negosiasi dalam hal adaptasi. Secara umum, pengalaman yang didapatkannya hampir sama dengan Gracia.
"Ada beberapa hal yang belum disepakati dan terdapat pandangan berbeda antar para pihak. Ternyata, dalam perundingan itu ada kepentingan yang mendominasi. Terkadang, ada yang diungkapkan berbeda dengan apa yang diperjuangkan," kata Aaliyah yang melakukan pendampingan terhadap grass root di Kalimantan Tengah.
Belum terbukanya kesempatan intervensi dari kaum muda Indonesia dalam plenary session oleh Delegasi RI, memang disayangkan. Kesempatan ini, diharapkan bisa menjadi forum kaum muda menyampaikan suara dan aspirasinya, seperti kesempatan yang diberikan delegasi India kepada salah satu duta mudanya, Agastya.
Di arena COP15, terdapat beberapa duta iklim muda yang dikirimkan beberapa organisasi. Kesempatan ini digunakan untuk mengamati jalannya proses negosiasi dan menggali berbagai inovasi serta menjalin link internasional untuk kemungkinan melakukan aksi bersama menghadapi perubahan iklim. Cerita para duta muda iklim ini akan disarikan dalam tulisan di Green Journey berikutnya.
