JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Ketua KPK Antasari Azhar mengatakan, selama memimpin lembaga antikorupsi, ia pernah hendak disantet seorang konglomerat. Hal ini diketahuinya ketika membaca sebuah majalah misteri.
Hal ini disampaikan Antasari dalam persidangan kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa mantan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Wiliardi Wizard, Selasa (15/12/2009) di PN Jakarta Selatan.
Pengakuan ini disampaikannya menjawab pertanyaan majelis hakim yang dipimpin Artha Theresia terkait keluhan yang pernah diutarakannya kepada Kepala Polri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri. "Saya sering dapat SMS gelap. Nama saya juga dicoret-coret di sepanjang Jalan Rasuna Said," ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, istrinya juga sempat diteror melalui telepon dan SMS oleh nomor yang tidak dikenal. Atas cerita Antasari, Kapolri mengatakan akan membantunya. Belakangan, muncul tim yang salah satu tugasnya adalah melacak keberadaan penelepon gelap. Namun, Antasari tidak dapat memastikan apakah tim yang dipimpin oleh Kombes Khaerul Anwar adalah resmi atas usulan Kapolri.
Pada persidangan kali ini, majelis hakim, jaksa penuntut umum, dan kuasa hukum Wiliardi menanyakan seputar hubungan Antasari dengan Wiliardi dan Sigid Haryo Wibisono dan juga pertemuannya dengan Rani Juliani dan Nasrudin di Hotel Grand Mahakam.
Antasari mengatakan, dirinya mulai mengenal Sigid pada akhir tahun 2007. Ketika hendak mengikuti uji kepatutan dan kelayakan sebagai ketua KPK, Sigid pernah mempertemukannya dengan Wakil Ketua Komisi III DPR 2004-2009.
Selama menjalin pertemanan, Antasari mengatakan, Sigid pernah beberapa kali memintanya memuluskan karier teman atau kerabatnya. Sigid pulalah yang mengenalkannya kepada Wiliardi. Saat itu, Wiliardi meminta Antasari mempromosikannya ke Kapolri.
Selama berteman dengan Sigid, Antasari setidaknya pernah bertemu dengannya sebanyak 5-6 kali. Sementara itu, Antasari mengaku mengenal Nasrudin 4-5 bulan setelah dirinya dilantik sebagai Ketua KPK. "Nasrudin menghubungi saya karena hendak memberikan data dugaan korupsi di PT RNI," ujarnya.
Dengan Rani, Antasari membantah bahwa gadis tersebut pernah menjadi caddy-nya. "Rani adalah caddy peer golf saya di Modern Land," ujarnya. Terkait pertemuannya di Grand Mahakam, Antasari mengatakan, hal ini terkait keanggotaannya di Modern Land.
