Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 06:32 WIB
SBY Dinilai Gagal Berantas Korupsi
Harry Susilo | msh | Rabu, 9 Desember 2009 | 22:24 WIB
|
Share:

 SEMARANG, KOMPAS.com- Ratusan orang dari sejumlah elemen masyarakat dan mahasiswa turun ke jalan melakukan aksi damai terkait peringatan Hari Antikorupsi Sedunia di Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (9/12). Mereka menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono gagal dalam upaya pemberantasan korupsi selama masa pemerintahannya.

Pengunjuk rasa yang menamakan diri Gerakan Rakyat Antikorupsi Jawa Tengah (Gerak Jateng) melakukan aksi di depan gedung DPRD Jateng, sedangkan Aliansi BEM Semarang Peduli Rakyat berunjuk rasa di videotron Jalan Pahlawan, Kota Semarang.

Mereka menilai, kegagalan Presiden SBY dalam pemberantasan korupsi ditunjukkan antara lain dengan adanya upaya pelemahan terhadap komisi pemberantasan korupsi (KPK) lewat kasus penahanan Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah, skandal bank Century senilai Rp 6,7 triliun, serta mandeknya penanganan kasus korupsi kepala daerah di Jateng .

"Izin pemeriksaan kepala daerah tidak kunjung diberikan, padahal katanya mau dipercepat," ujar Sekretaris Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotis me (KP2KKN) Jateng Eko Haryanto.

Aryanto dari Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro ) Semarang mengatakan, maraknya mafia peradilan membuktikan lemahnya supremasi hukum yang selama ini ada.

Untuk itu, para aktivis menuntut segera dihapuskannya mafia peradilan, menolak rencana peraturan pemerintah tentang penyadapan bagi penegak hukum, dan mendorong KPK untuk membongkar kasus bank Century hingga ke akarnya.

Mereka meminta pejabat yang terkait kasus Century agar segera diperiksa, seperti Wakil Presiden Boediono yang merupakan mantan Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Pengunjuk rasa sempat diterima Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Jateng Donny Kadnezar. Donny berjanji akan mengusut tuntas kasus korupsi pejabat pemerintahan yang ada di Jateng tanpa tebang pilih. "Kami akan tangani semuanya," ucapnya.

Aksi damai Gerak Jateng juga diikuti seorang tukang becak asal Papua bernama Otto Mayor (41), yang rela berjalan sekitar 47 kilometer dari tempat tinggalnya di Kota Salatiga. Dia mengaku ingin terlibat dalam aksi yang menuntut pemberantasan korupsi karena geram dengan pemerintah. "Saya sudah tidak percaya lagi dengan pemimpin-pemimpin bangsa ini," kata Otto.

Aksi juga diwarnai pembakaran kotak kardus yang berisi foto-foto pejabat negara yang terlibat kasus korupsi dan shalat gaib, sebelum berakhir dengan tertib.