Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 06:30 WIB
Saya Bersyukur Jadi Orang Tua Spesial...
Caroline Damanik | Glo | Rabu, 9 Desember 2009 | 11:16 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com - Apa yang Anda rasakan ketika mengetahui bahwa anak Anda lahir atau tumbuh tidak normal baik fisik maupun psikisnya? Bagi kebanyakan orang, rasa malu, terpuruk dan sedih yang mendalam akan menyerang. Mengasihani diri sendiri pun menjadi opsi yang tak terhindari.

Juliana Dharmadi, ibunda si kembar Jared Christiphel dan Jayden Christophel juga merasakan hal itu ketika mengetahui anaknya Jared mengalami Retinopathy of Prematurity (ROP) setelah lahir lebih dari sebulan. Akibat ROP, Jared harus mengalami buta permanen.

Sedangkan Jayden mengalami mata silindris 2.5 kiri dan kanan. Memang, keduanya lahir prematur sehingga butuh perawatan khusus. Namun, Juliana menduga dokter yang menangani kelahiran Jared dan Jayden di RS Omni Internasional Alam Sutera Serpong melakukan kelalaian sehingga menyebabkan buta permanen pada Jared.

Tentu saja, rasa sedih, terpuruk dan geram yang bercampur begitu rupa memakan habis hari-hari awal Juliana sebagai ibu. Namun, akhirnya dia berani bangkit dari lumpur keterpurukan itu. Bukan karena ada jaminan dari rumah sakit untuk menjamin operasi mata Jared (boro-boro, ungkap Juliana), tapi justru karena rasa syukur.

Bahkan, kini Juliana berani mengklaim bahwa keluarganya sedang berbahagia seperti keluarga normal lainnya yang baru mendapatkan balita kembar. Kok bisa?

"Kita sangat bangga dengan keadaan Jared seperti apapun. Di situ saya merasa bangga dipilih Tuhan untuk menjadi special parent untuk special children. Saya tidak merasa anak saya ini cacat karena saya justru menjadi orang tua pilihan yang harus berjuang lebih untuk anak ini dibanding orang tua lain dan saya memiliki kemampuan lebih," tuturnya dengan lugas.

Tak bisa dipungkiri, pemahaman macam ini didapatnya dari sejumlah workshop dan pelatihan untuk orang tua bagi anak-anak disable di luar negeri. Setelah merasa tidak yakin dengan dunia medis dalam negeri, Juliana berangkat ke Australia untuk mengusahakan perawatan bagi Jared.

Tak hanya perawatan bagi Jared, hal terpenting adalah Juliana mendapat 'perawatan' bagi hatinya. "Pelatihan di Australia itu bilang, kebanyakan begitu orang tua mendapat disable children, sebenarnya yang sakit bukan anaknya tapi hati orangtuanya. Jadi yang perlu disembuhkan dulu itu hati ortunya, psikologinya, bukan anaknya," ungkapnya.

Di Australia, Juliana belajar pelan-pelan menjadi orang tua bagi anak-anak disable. Dia memahami bahwa anak disable bukan berarti cacat, namun hanya dalam kondisi spesial. Wawasan seperti ini pun akhirnya dibagikannya juga kepada suster yang merawat Jared dan pembantunya.

Juliana juga akhirnya tak merasa malu untuk membawa Jared ke tempat publik atau acara keluarga. "Jared kan akan lebih suka menutup mata karena dia tidak tahu bedanya terang dan gelap. Jadi menurut dia, lebih enak nutup mata. Dan siapapun yang melihat dia akan bertanya anaknya ngantuk ya? Tetapi dengan lancarnya saya jawab oh tidak, dia hanya tidak bisa melihat. Dengan hati yang lepas seperti sekarang saya bisa bilang," lanjutnya.  

Jared Lebih Pintar dari Jayden

Setelah berumur 18 bulan merawat Jared dan menerima keadaannya, Juliana makin mengerti apa arti 'anak spesial'. Juliana melihat bahwa Tuhan itu baik. Di satu sisi, Tuhan memberi kekurangan sementara di sisi lain , Tuhan memberi kelebihan kepada si anak. "Jared memiliki brain yang lebih pinter ketimbang Jayden. Sangat pinter," tuturnya.

"Daya hafalnya cepet sekali, dalam bentuk smelling, sehingga mengenal seseorang dengan smell, dengan hear (mendengar). Dia hafal mana lagu tidur, mana lagu main dan tahu siapa yang menyanyikannya dalam usai 18 bulan. Dia komunikatif dan saya bersyukur dia diberikan Tuhan brain dan instinct yang lebih kuat," lanjutnya kemudian.

Juliana juga mengatakan perawakan Jared lebih besar daripada Jayden meski Jayden lebih lancar belajar berjalan karena dia bisa melihat secara normal.

Kini dia hanya berharap upaya perawatan Jared ke Australia yang memakan biaya sekitar Rp 30 juta setiap bulan bisa berjalan lancar dan berharap suatu waktu ditemukan teknologi untuk menyambung saraf mata yang putus dalam kasus ROP. Bagiannya, menjaga bagian mata Jared lainnya, seperti kornea, lensa dan retina agar tetap baik.