BOJONEGORO, KOMPAS.com - Jalan nasional di Kabupaten Bojonegoro dinilai kurang mendapatkan perhatian pemerintah pusat. Berdasarkan data di Unit Pelaksana Teknis Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Jawa Timur di Bojonegoro, kerusakan jalan Nasional Babat-Bojonegoro mencapai 36,27 kilometer, sedangkan jalur Bojonegoro-Padangan-Ngawi sepanjang 29,98 kilometer.
Warga Bojonegoro berharap, seiring telah diproduksinya 20.000 barel minyak per hari minyak mentah dari Lapangan Banyuurip di Bojonegoro bisa berdampak positif bagi Bojonegoro. Paling tidak jalan Bojonegoro yang selama ini dikenal bergelombang bisa diatasi dnegan kontruksi yang lebih bagus sesuai struktur tanah.
"Jalan nasional yang ada di Bojonegoro ini sebagian besar rusak bergelombang dan pecah pecah di bahu jalannya, sehingga membuat pengguna jalan tak nyaman. Akibatnya juga sering terjadi kecelakaan lalu lintas," kata Bambang Sugianto (30), salah seorang warga Bojonegoro, Minggu (6/12).
Ketua Parliament Watch Bojonegoro, Herry Pelupessy menyatakan selama ini memang ada penanganan preservasi. Namun perbaikan seperti itu tidak membuat jalan bertahan lama, karena ondisi tanah di Bojonegoro tergolong expansive.
"Sudah saatnya jalan nasional di Bojonegoro itu diperhatikan perbaikannya. Saya paham kenapa jalan nasional di sini tak tersentuh perbaikan yang totalitas, dikarenakan sejak berganti ganti pimpinan di pemerintahan pusat hingga wakil rakyatnya belum dapat berpikir untuk menelorkan kebijakan perbaikan jalan nasional untuk Bojonegoro. Mudah-mudahan untuk sekarang ini, terutama untuk wakil rakyat yang baru dapat membantu memikirkannya," kata Herry.
Dia menjelaskan Bojonegoro merupakan penghasil devisa negara melalui produksi minyak mentah yang ada di Lapangan Blok Cepu dengan operator ExxonMobil dan lapangan Sukowati oleh Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java. Namun kondisi itu tidak berbanding lurus dengan kondisi insfrastruktur di Bojonegoro.
Salah satunya kondisi jalan nasional memperihatinkan, sehingga sering menyebabkan terjadi kecelakaan di ruas jalan Babat-Bojonegoro-Padangan-Ngawi. "Sebagai penghasil devisa negara Bojonegoro patut mendapat perhatian pemerintah pusat," jelas Herry.
Herry menyebutkan ExxonMobil dapat menyedot produksi puncak 180.000 barel perhari dan JOB PPEJ menyedot 40.000 barel perhari, maka total produksi minyak mentah dari Bojonegoro 220.000 barel per hari. Bila harga perbarel minyak mentah sebesar 67 dollar AS dengan kurs Rp 10.000 per dollar AS maka hasil minyak per hari 14.740.000 US dolar atau sebesar Rp137 miliar.
Menurut dia, dari pendapatan itu tentunya dapat memperbaiki total panjang jalan nasional di Bojonegoro yang kurang lebih 92 Km dengan kontruksi pile slap. Perbaikan untuk memperkokoh jalan nasional itu diperlukan biaya kurang lebih Rp 75 miliar. Biaya itu tergolong kecil dibandingkan devisa yang diterima pemerintah pusat.
"Semoga jalan nasional di sini cepat mendapat perhatian, karena Bojonegoro adalah penghasil devisa negara," ujar Herry menegaskan.

