JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank, Jakarta, Kamis (3/12) pagi, turun 10 poin menjadi Rp 9.440-Rp 9.455 per dollar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya, Rp 9.430-Rp 9.445, karena pelaku kembali melepas rupiah setelah hari sebelumnya menguat.
"Namun, aksi lepas rupiah di pasar belum besar karena sebagian pelaku pasar masih menunggu kelanjutan dari kasus Bank Century terkait dana talangan Rp 6,7 triliun," kata analis valas PT Bank Saudara Tbk, Rully Nova, di Jakarta, Kamis.
Rully mengatakan, para pelaku pasar uang terlihat masih belum aktif karena mereka agak hati-hati untuk bermain di pasar setelah dollar AS terhadap mata uang regional cenderung membaik. "Membaiknya mata uang AS itu mengakibatkan bursa Wall Street melemah, tertekan oleh data pekerjaan Amerika Serikat yang memburuk," ucapnya.
Meski rupiah melemah, posisi masih berada dalam kisaran yang sempit, Rp 9.400 sampai Rp 9.450 per dollar AS, yang menunjukkan bahwa kedua mata uang itu masih dalam kisaran sempit.
Menurut Rully, peluang rupiah untuk kembali menguat masih tetap tinggi, apalagi pada 2010 Amerika Serikat diperkirakan akan melepas dollarnya dalam jumlah besar. "Amerika Serikat berupaya untuk melepas dollar ke pasar sebanyak-banyaknya agar paket stimulus yang direncanakan bisa berjalan dengan baik," ucapnya.
Ia mengatakan, posisi rupiah yang berkisar Rp 9.400 sampai Rp 9.450 per dollar AS sebenarnya sudah cukup baik karena masih di bawah angka Rp 9.500 per dollar AS. "Namun, akan lebih baik apabila rupiah berada di bawah angka Rp 9.400 dan mampu mencapai Rp 9.300 per dollar," tuturnya.
Apalagi, Indonesia ke depan akan menjadi suatu negara yang berada paling depan, sebelumnya China dan India dalam pertumbuhan ekonominya. "Jadi, Indonesia akan tetap menjadi pasar yang diminati pelaku asing untuk menempatkan dananya," ujarnya.
