KUALA LUMPUR, KOMPAS.com — Menteri Dalam Negeri Malaysia Hishamuddin Onn menggeleng-gelengkan kepala setelah mendengarkan cerita seorang TKW bermasalah yang tinggal di penampungan sementara KBRI Kuala Lumpur. "Siapa yang tinggal paling lama di sini," kata Hishamuddin ketika berkunjung dan berdialog dengan beberapa TKW di penampungan sementara KBRI Kuala Lumpur, Rabu (2/12).
"Saya Pak. Saya sudah tinggal tujuh bulan di sini," kata Sriwati, TKW setengah baya sambil berdiri dan berjalan menuju Menteri disaksikan Dubes RI Da’i Bachtiar.
"Kenapa kamu tinggal di sini " tanya Menteri.
"Saya tidak dibayar gaji selama 10 tahun bekerja di Malaysia. Majikan telah dipanggil KBRI dan mengakuinya serta bersedia membayar gaji saya yang tertunggak sekitar 30.000 ringgit (Rp 82,5 juta) secara nyicil (bertahap)," kata Sriwati.
Mendengar jawaban itu, Hishamuddin menggeleng-gelengkan kepala. "Sepuluh tahun kamu tidak dibayar gajinya?" tanya Menteri.
"Iya Pak Menteri," ditegaskan lagi oleh Sriwati.
"Baiklah Ibu, saya akan mencoba membantunya," kata dia.
Menteri Hishamuddin Onn dan Dubes Da’i Bachtiar kemudian melanjutkan kunjungan dan berdialog dengan TKW bermasalah lainnya di penampungan KBRI.
Dalam kunjungan itu, dia bertemu dan melihat tangan TKW korban kekerasan majikan ditambah lagi gaji tidak dibayar. Ditemukan juga pembantu yang tidak dibayar gajinya dan diperkosa hingga punya anak.
Dia juga bertemu dengan Siti Hajar yang telah kembali ke Kuala Lumpur karena sidang pengadilannya telah dimulai lagi hingga 11 Desember 2009. "Majikan saya bilang di pengadilan, saya melukai diri sendiri," kata Siti Hajar.
"Ibu ceritakan perkara yang sebenarnya ke pengadilan ya... Semoga keadilan berpihak pada ibu," kata Menteri Mendagri Malaysia.
Dalam jumpa pers, Mendagri Malaysia menjelaskan bahwa telah banyak kasus yang menimpa TKW bermasalah asal Indonesia dapat diselesaikan dengan cepat setelah satuan tugas dibentuk. Ini terjadi setelah kasus-kasus serupa mengendap lama.
"Menyusul kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Malaysia, belum lama ini, kami mencoba mempercepat penyelesaian kasus-kasus TKW asal Indonesia. Kami sudah menyelesaikan 54 kasus, 36 kasus hampir selesai, dan 56 kasus menunggu pembicaraan," katanya.
"Satgas ini akan dilembagakannantinya demi terus menjaga hubungan baik Indonesia-Malaysia," kata Hishamuddin Onn.
