Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 07:43 WIB
Wah, Populasi Cicak Terancam akibat Kerusakan Alam
| bnj | Rabu, 2 Desember 2009 | 16:02 WIB
|
Share:

wordpress.com
Ilustrasi

LEBAK, KOMPAS.com — Populasi cicak di Kabupaten Lebak, Banten, beberapa tahun terakhir ini terancam kehilangan makanan akibat dampak dari kerusakan lingkungan alam.

"Saat ini satwa cicak sulit ditemukan di tembok-tembok rumah penduduk karena habitatnya sebagai tempat berlindung dan berkembang biak telah kehilangan makanan," kata dr Ramdani, saat melakukan penelitian cicak di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Rabu (2/12).

Ramdani mengatakan, saat ini populasi cicak lebih baik jika mendiami lubang tanah, sampah, dan rumput karena habitatnya sudah tidak aman.

Populasi cicak sudah sulit ditemukan di tembok rumah warga atau pohon. "Kalau dulu jika malam tiba, banyak cicak berkeliaran di dinding rumah penduduk," katanya.

Menurut dia, cicak menghilang dari dinding rumah warga karena kesulitan memperolah makanan, seperti binatang sejenis nyamuk atau ulat-ulatan.

Selain itu, hal tersebut juga meningkatkan kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan penyakit lainnya yang ditularkan nyamuk.

Populasi cicak di Rangkasbitung, Lebak, sekitar 1970 masih banyak ditemukan di tembok dinding rumah warga. Namun, saat ini jumlah populasi cicak diperkirakan semakin berkurang.

Sebetulnya, binatang merayap ini cukup bermanfaat bagi lingkungan hidup karena cicak dapat mengurangi penyakit DBD. "Saat ini munculnya kasus penyakit DBD di antaranya akibat berkurangnya populasi cicak," katanya.

Dulu setiap rumah diperkirakan terdapat antara 120 dan 150 cicak. Namun, sekarang cicak yang berlindung di tembok-tembok rumah warga sangat terbatas.

Oleh karena itu, pihaknya berharap masyarakat melestarikan populasi cicak untuk mengantisipasi penyakit yang membahayakan bagi manusia.

"Jika kita melestarikan cicak, maka mereka tentu akan memakan nyamuk-nyamuk sebagai pembawa virus itu," katanya.

Sementara itu, warga Rangkasbitung mengaku bahwa saat ini banyak warga melakukan perburuan cicak untuk dijual, baik ke pedagang ikan hias maupun burung.

"Saya semalam bisa mendapat uang Rp 30.000 dari hasil tangkapan cicak," kata Udi (45), warga Rangkasbitung.

Sumber :
ANT