JAKARTA, KOMPAS.com -
Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan hal itu di Jakarta, Selasa (1/12), menanggapi krisis listrik yang masih terjadi, terutama di luar Jawa.
Hidayat mengatakan, ”Saya bersama Menteri Negara BUMN serius menyikapi krisis listrik. Bentuk keseriusannya adalah mendorong supaya pasokan listrik baru dari swasta bisa segera direalisasikan.”
Selain itu, menurut Hidayat, aturan PLN yang membuat tarif listrik bagi industri, seperti pengenaan tarif daya maksimum pada saat beban puncak, haruslah dipertimbangkan kembali. Pemerintah saat ini menerapkan tarif daya maksimum sebesar Rp 1.023 per kilowatt-hour (kWh). Tarif ini turun dari Rp 1.377 per kWh, disesuaikan dengan penurunan harga bahan bakar minyak pada Januari 2009.
Upaya menumbuhkan kembali industri nasional ini sudah keharusan karena peran industri manufaktur terhadap pendapatan domestik kotor nasional per tahun 2008 hanya 27,9 persen. Sebelumnya peran ini pernah mencapai 35 persen. Gejala deindustrialisasi ini juga terlihat dari konsumsi bahan bakar minyak industri yang terus turun sejak tahun 2000. Konsumsi listrik industri juga terus menurun.
Guru besar ilmu ekonomi Institut Pertanian Bogor, Hermanto Siregar, mengatakan, listrik sangat menentukan dalam mendorong peningkatan nilai tambah melalui industri pengolahan produk pertanian skala kecil. Pembangunan industri pertanian tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur jalan dan irigasi yang penting.
Untuk memenuhi industri skala kecil tidak harus dilakukan pengembangan atau penambahan kapasitas listrik dalam skala besar. Pembangkit listrik skala mikro juga harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik keluarga ataupun industri rumahan.
”Dalam pengembangan pembangkit listrik skala kecil ini, pemerintah daerah harus lebih banyak berperan, terutama dalam menemukan potensi-potensi sumber energi listrik. Teknologi tinggal mengadopsi,” katanya.
Hermanto mencontohkan, Belanda juga mengembangkan potensi energi lokal yang ada. Mereka memanfaatkan kincir angin. Indonesia dengan kondisi topografi yang berbukit juga potensial untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga air skala kecil dan energi biogas, dengan memanfaatkan kotoran hewan.
”Pembangkit listrik skala kecil diperlukan karena pembangkit listrik skala besar tidak bisa diandalkan,” katanya. Tanpa menyediakan energi listrik yang memadai, pengembangan sektor pertanian melalui industri pengolahan akan terganggu.
Sementara itu, pemerintah mengembangkan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang relatif murah. Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) J Purwono mengatakan, pemerintah akan menerbitkan peraturan menteri ESDM tentang harga jual listrik dari pembangkit tenaga panas bumi pada Desember ini. Harga jual listrik dari panas bumi maksimal 9,7 sen dollar AS per kWh.
