KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Demo atau Enggak, Mari Bergerak
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik
Kamis, 26 November 2009 | 16:59 WIB
KOMPAS.com/Caroline Damanik
Diskusi publik bertajuk 'KPK, Bank Century dan Masa Depan Koruptor' di Universitas Nasional, Kamis (26/11), yang dijadwalkan dihadiri oleh Bibit dan Chandra tetap berlanjut meski keduanya tidak datang.

JAKARTA, KOMPAS.com — Berbagai demonstrasi atau unjuk rasa berhamburan setiap hari sejak kasus dugaan pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bergulir. Sebagian besar yang melakukan adalah mahasiswa dan para alumninya. Banyak yang sepakat aksi merupakan langkah tepat menghadapi pemerintah yang plintat-plintut, tetapi ada pula yang beranggapan tak perlu ikut aksi.

Ahmad Rizki (24), mahasiswa Jurusan Komunikasi Universitas Nasional (Unas), cukup tegas mengatakan bahwa demonstrasi adalah jalan terbaik untuk mendesak pemerintah bersikap tegas dalam kasus Bank Century. "Harus lewat demo, bergerak! Lewat Facebook juga bisa," ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (26/11).

Hal senada juga dilontarkan oleh Reza Pahlevi (28), mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Unas. Aktivis yang duduk di lembaga perwakilan mahasiswa, semacam legislatif di tingkat kampus, sepakat demonstrasi masuk dalam prioritas teratas untuk mendesak pemerintahan bersikap tepat. Senin (30/11) nanti, dia ikut dalam aksi Unas di depan Gedung KPK. Namun, pada dasarnya, lanjut Reza, tujuannya adalah mencari klarifikasi.

"Tugas kita, mahasiswa, adalah ingin mencari klarifikasi agar ada kejelasan di balik kasus Bibit-Chandra dan Bank Century," tuturnya. Dalam demonstrasi nanti, Reza dan rekan-rekannya akan mendesak SBY turun langsung memberikan klarifikasi yang jelas keterkaitan antara Bank Century dan namanya.

Berbeda dengan kedua rekannya, Nuru Wardhani (20), mahasiswa Jurusan Administrasi Negara angkatan 2008, tak sepaham. Dalam persoalan Bank Century, menurutnya, aksi unjuk rasa tak efektif untuk dilakukan. Apalagi, mahasiswa cuma punya segelintir data dari grand design kasus yang ada. Bagian mahasiswa harusnya dilakukan dengan lebih elegan dan juga memulai perbaikan mental dari lingkungan sendiri.

"Menurut gue, kalau demo itu percuma karena yang bisa ngerubah masalah bangsa itu ya dimulai dari diri kita sendiri. Jadi, bukan cuma protes. Yang akan meneruskan kan kita. Kalau demo-demo begitu kita kan enggak punya data riil," tegasnya.

Namun, sepakat turun ke jalan ataupun tidak, Chacha (21), mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional, mengatakan, semua aksi mahasiswa harus ditujukan untuk kepentingan rakyat. Mari bergerak!

Editor: wah Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.