
JAKARTA, KOMPAS.com — Berbagai demonstrasi atau unjuk rasa berhamburan setiap hari sejak kasus dugaan pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bergulir. Sebagian besar yang melakukan adalah mahasiswa dan para alumninya. Banyak yang sepakat aksi merupakan langkah tepat menghadapi pemerintah yang plintat-plintut, tetapi ada pula yang beranggapan tak perlu ikut aksi.
Ahmad Rizki (24), mahasiswa Jurusan Komunikasi Universitas Nasional (Unas), cukup tegas mengatakan bahwa demonstrasi adalah jalan terbaik untuk mendesak pemerintah bersikap tegas dalam kasus Bank Century. "Harus lewat demo, bergerak! Lewat Facebook juga bisa," ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (26/11).
Hal senada juga dilontarkan oleh Reza Pahlevi (28), mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Unas. Aktivis yang duduk di lembaga perwakilan mahasiswa, semacam legislatif di tingkat kampus, sepakat demonstrasi masuk dalam prioritas teratas untuk mendesak pemerintahan bersikap tepat. Senin (30/11) nanti, dia ikut dalam aksi Unas di depan Gedung KPK. Namun, pada dasarnya, lanjut Reza, tujuannya adalah mencari klarifikasi.
"Tugas kita, mahasiswa, adalah ingin mencari klarifikasi agar ada kejelasan di balik kasus Bibit-Chandra dan Bank Century," tuturnya. Dalam demonstrasi nanti, Reza dan rekan-rekannya akan mendesak SBY turun langsung memberikan klarifikasi yang jelas keterkaitan antara Bank Century dan namanya.
Berbeda dengan kedua rekannya, Nuru Wardhani (20), mahasiswa Jurusan Administrasi Negara angkatan 2008, tak sepaham. Dalam persoalan Bank Century, menurutnya, aksi unjuk rasa tak efektif untuk dilakukan. Apalagi, mahasiswa cuma punya segelintir data dari grand design kasus yang ada. Bagian mahasiswa harusnya dilakukan dengan lebih elegan dan juga memulai perbaikan mental dari lingkungan sendiri.
"Menurut gue, kalau demo itu percuma karena yang bisa ngerubah masalah bangsa itu ya dimulai dari diri kita sendiri. Jadi, bukan cuma protes. Yang akan meneruskan kan kita. Kalau demo-demo begitu kita kan enggak punya data riil," tegasnya.
Namun, sepakat turun ke jalan ataupun tidak, Chacha (21), mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional, mengatakan, semua aksi mahasiswa harus ditujukan untuk kepentingan rakyat. Mari bergerak!