Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 07:09 WIB
Sleman Cari Investor Pembibitan Bunga Krisan
Mohamad Final Daeng | wah | Selasa, 24 November 2009 | 20:52 WIB
|
Share:

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
Sejumlah varietas bunga krisan (chrysanthemum ) unggul hasil budidaya Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian.

SLEMAN, KOMPAS.com - Untuk mengembangkan budidaya bunga krisan (Chrysanthemum) yang mulai tumbuh pesat di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, pemerintah setempat mencarikan investor untuk mengatasi kendala modal. Saat ini, pembibitan menjadi masalah penting yang dihadapi dalam pengembangan komoditas bunga hias itu.

"Kami sudah menjajaki peluang masuknya investor untuk pengembangan budidaya krisan dengan mengikuti forum investasi di Den Haag, Belanda, bulan lalu," kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman Slamet Riyadi Martoyo, Selasa (24/11).

Dari forum investasi itu, Riyadi mengatakan terdapat sekitar 10 investor asal Eropa, yang telah menyatakan ketertarikan awal untuk berinvestasi krisan di Sleman. "Sekarang tinggal menunggu kelanjutannya saja," ujarnya.

Belanda dipilih karena letaknya yang strategis di tengah-tengah benua Eropa. Selain itu, Belanda juga dikenal luas dengan komoditas bunga hiasnya. "Karena itu, peluang mendapatkan investor yang paham budidaya krisan lebih besar," katanya.

Lebih jauh, ia menambahkan, investor yang dicari bukanlah yang akan berinvestasi dengan membuka lahan baru budidaya krisan, melainkan hanya sebatas pada penyediaan bibitnya saja. Pasalnya, saat ini para petani krisan terkendala menyediakan bibit sumber yang berkualitas.

Budidaya krisan dipandang sebagai salah satu solusi atas sempitnya lahan pertanian saat ini karena tidak memerlukan lahan luas namun memiliki nilai jual tinggi. "Dari penelitian kami, rata-rata seorang petani Sleman hanya memiliki lahan seluas 1.650 meter persegi. Kalau ditanami padi, tentu tidak akan membawa hasil yang optimal," kata Riyadi.

Ketua Asosiasi Petani Krisan Yogyakarta Bambang Setiadi mengatakan, petani tidak bisa mengandalkan bibit dari tunas (vegetatif) karena kualitasnya tidak akan baik. "Adapun bibit sumber buatan dalam negeri variasinya kurang banyak sehingga kalah bersaing di pasaran," katanya.

Dengan mendatangkan investor luar negeri yang bisa menyediakan bibit sumber berkualitas, Bambang optimistis dapat meningkatkan produksi dan kualitas tanaman petani. Saat ini, terdapat 124 petani budidaya krisan di Sleman yang mengelola 4-5 hektare lahan di wilayah lereng Gunung Merapi di Kecamatan Pakem.

Kapasitas produksi mencapai sekitar 10.000 batang per hari dengan harga satu batang krisan Rp 1.000. Dari 1.000 meter lahan budidaya, bisa ditanam 50.000 batang krisan dengan masa panen 3-4 bulan.