Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 07:07 WIB
Antasari: Saya atau Nasrudin yang Mati
Frans Agung Setiawan | Edj | Selasa, 24 November 2009 | 14:34 WIB
|
Share:

FRANS AGUNG
Ina Susanti, analis data KPK, sedang memberikan kesaksian dalam sidang Antasari Azhar di PN Jakarta Selatan, Selasa (24/11).

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Kegelisahan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar karena mendapat teror dari Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen dan istrinya, Rani Juliani, sempat dibawa juga ke lembaganya. KPK sempat menyadap telepon Nasrudin. Hal tersebut diungkap oleh Ina Susanti, Analisis Informasi KPK. "Saya melakukan analisis penyadapan telepon Nasrudin Zulkarnaen," kata Ina saat bersaksi dalam sidang Antasari di PN Jakarta Selatan, Selasa (24/11).

Menurut Ina, ada lima nomor Nasrudin yang disadap. Kuasa untuk melakukan penyadapan setelah ada surat perintah penyadapan yang ditandatangani oleh Wakil Ketua (nonaktif) KPK Chandra M Hamzah. Hasil penyadapan menunjukkan, Nasrudin tidak melakukan tindak pidana korupsi. "Setelah dua minggu saya analisis, tidak ada muatan yang mengarah pada tindak pidana korupsi," ujar Ina.

Hasil tersebut, katanya, disampaikan Ina kepada pimpinannya, Direktur Informasi dan Data KPK Budi Ibrahim. Karena tidak ada pelanggaran hukum, Ina mengusulkan supaya "kasus" ini tidak dilanjutkan. Kemudian ia bertemu Antasari di ruangnya bersama Budi. "(Di ruangan itu) saya diperlihatkan print out dari Pak Antasari. Sekilas. (Ada) Tiga gambar, (yakni) rumah, mobil serta, laki-laki dan perempuan berdampingan," tuturnya.

Dalam pertemuan itu, Ina mengaku, Antasari sering keluar-masuk ruang kerja Wakil Ketua (nonaktif) KPK Bibit S Rianto karena saat itu Bibit sedang sakit. Ina pun hanya sebentar di rungan itu. Namun, ia sempat mendengar Antasari kesal dengan Nasrudin. "Pak Antasari bilang, saya atau dia yang mati," ungkapnya.

Selain itu, ia juga mendengar Budi menyarankan Antasari untuk tidak usah menanggapi Nasrudin. "Enggak level," kata Budi seperti dikutip Ina.