KOMPAS
Senin, 22 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
PLN Kembali Beli Listrik
Senin, 23 November 2009 | 09:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — PT PLN (Persero) kembali membeli listrik dari perusahanan-perusahaan swasta untuk mengatasi defisit di beberapa wilayah Indonesia.

"Kami telah melakukan pembicaraan dengan sembilan pemilik excess power dari Sumut, Riau, Jambi, Lampung, Jabar, dan Jatim. Mereka ini pengusaha pabrik kelapa sawit, pabrik kertas, pabrik gas, dan pabrik tekstil," kata Direktur PLN untuk Jawa Bali Murtaqi Syamsuddin dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Menurutnya, upaya mengatasi krisis di daerah-daerah luar Jawa secara mendasar memang harus segera menyelesaikan proyek-proyek PLTU 10.000 MW. Namun, untuk itu masih perlu waktu. Untuk mengatasi dengan cepat defisit listrik yang terjadi, PLN akan melakukan dua hal, yakni membeli excess power dan menyewa genset besar.

Kontrak yang akan ditandatangani adalah untuk memasok listrik 86 MW, dengan rincian Sumut 12 MW, Riau Daratan 16 MW, Bintan 4 MW, Jatim 10 MW, Kalsel 17 MW, Jabar 20 MW, Lampung 6 MW, dan Jambi 11 MW.

Sebelumnya PLN menandatangani kontrak pasokan 106 MW dari perusahaan pemilik excess power di Sumatera Utara (47 MW) dan Jawa Barat (61 MW).  Saat ini listrik tersebut sudah masuk ke sistem PLN.

Murtaqi menambahkan, PLN akan terus menginventarisasi potensi excess power di setiap daerah dan melakukan persuasi ke para pemiliknya untuk membantu defisit listrik. "Untuk itu, PLN bersedia membayar biaya produksi excess power ditambah margin yang wajar bagi pemilik. Kami memerkirakan potensi excess power yang bisa dimanfaatkan PLN dari Industri Agro di Sumatera dan Kalimatan tidak kurang dari 300 MW," ujarnya.

Editor: Edj Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.