JAKARTA,KOMPAS.com - Pemanggilan pimpinan dua media cetak nasional, harian Kompas dan Seputar Indonesia, menunjukkan ketakutan jajaran Polri dengan kekuatan rakyat. Apa yang disampaikan oleh media massa merupakan aspirasi dari masyarakat, sehingga pemanggilan pimpinan media tersebut dilakukan Polri agar masyarakat tidak lagi memberikan tekanan-tekanan terhadap Polri.
"Ini bentuk ketakutan Polri. Karena media massa berperan menyampaikan sikap-sikap kritis dari masyarakat terhadap rekayasa yang terjadi," kata mantan aktivis era reformasi tahun 1998 Haris Rusly, Minggu (22/11), di Gedung KPK, Jakarta.
Juru bicara Indonesia Crisis Center (ICC) ini mengatakan, pemanggilan tersebut sangat tidak masuk akal, jika Polri hanya ingin mendapatkan informasi terkait kasus pengungkapan hasil penyadapan KPK yang sempat diputar di Mahkamah Konstitusi beberapa waktu lalu.
"Ini benar-benar aneh bin ajaib dalam era demokrasi seperti sekarang ini. Dengan alasan meminta data dan fakta mereka memanggil media massa. Padahal mereka kan juga baca koran, kenapa mesti dipanggil," tuturnya.
Haris menilai, tindakan Polri tersebut bisa jadi merupakan upaya sistematis untuk menakut-nakuti para wartawan agar tidak bersikap kritis. Ia melihat pemanggilan semacam ini seperti sebuah perulangan sebagaimana pernah terjadi pada era orde baru. "Media massa ditakuti. Ini seperti tahun 1998 ketika media berani melawan tirani. Upaya sistematisnya wartawan ditakuti," ungkapnya.
