KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Pemilihan Ketua Umum PDI-P Dimulai Medio Desember
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik
Jumat, 20 November 2009 | 18:05 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rakernas VII PDI-P, Jumat (20/11), telah tuntas membahas mekanisme penyelenggaraan Kongres III PDI-P pada April tahun depan sebagai puncak pemilihan ketua umum baru. Sekjen PDI-P Pramono Anung mengatakan, pemilihan ketua umum sendiri dimulai dari daerah pada medio Desember 2009.

"Untuk memilih ketum mulai dari tingkat cabang. Mereka memutuskan dalam forum konferensi cabang untuk menentukan calon ketua umum yang diusung cabang yang bersangkutan," ujarnya seusai Rakernas berlangsung.

Proses pemilihan di cabang akan berakhir hingga pertengahan Februari 2010. Sejak itu, proses dilanjutkan di konferensi daerah yang berlangsung di tingkat provinsi hingga awal Maret 2010. Pramono menegaskan bahwa sistem yang dianut partai bukanlah keputusan orang per orang sebagai perwakilan, melainkan keputusan bersama di tingkat cabang ataupun provinsi.

"Perwakilan tersebut nanti hanya menyampaikan keputusan cabang atau provinsi, bukan memutuskan. BAP yang berisi keputusan yang mengikat," lanjutnya.

Menurut Pramono, mekanisme seperti ini dapat meminimalisasi terjadinya politik uang karena kewenangan keputusan ada di dalam forum.

Mega maju lagi?

Pramono juga menegaskan bahwa siapa pun yang terpilih menjadi ketua umum baru nantinya akan terpilih sesuai mekanisme yang berlaku, termasuk jika Megawati yang terpilih lagi.

Bagaimanapun, lanjut Pramono, selama di bawah kepemimpinan Mega, PDI-P dikenal sebagai partai yang memiliki soliditas tinggi dan konsisten pada sikapnya.

"Kalau ada daerah yang sudah sampaikan aspirasi, itu seperti dari organisasi sayap kepada Ibu Mega. Kami tak berandai-andai, tapi PDI-P akan tetap solid," tandasnya.

Editor: ksp Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.