SURABAYA, KOMPAS.com - Panitia Penyelenggara Haji (PPIH) Jatim mengimbau para jemaah selalu mengenakan gelang yang dibagikan di Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES) Sukolilo. Ini agar tak ada yang tersesat.
Atribut khusus itu, kata Humas PPIH Jatim Sugianto, akan membantu petugas kalau ada jemaah yang tersesat. Sebab, di gelang itu ada tulisan nama jemaah, kloter, embarkasi, telepon muassasah dan nomor paspor.
Ketika jemaah tersesat, mengalami kecelakaan, atau meninggal dunia, identitas di gelang akan menjadi petunjuk penting. Gelang khusus ini dibuat oleh PT Multi Mentari Internusa Jakarta.
Ali Rofii, koordinator pembuat gelang bagi CJH mengatakan, ada 12 pekerja yang setiap hari bisa menghasilkan 1.800 biji. ”Itu cukup untuk empat kloter jemaah,” jelasnya, Selasa (17/11).
Selain gelang khusus, kata Sugianto, para jemaah juga diharapkan punya penanda identitas lain, termasuk PIN asal kloter mereka, selain paspor dan Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji (DAPIH). Namun, khusus DAPIH, langsung diserahkan ke Maktab begitu jemaah tiba di bandara Arab Saudi. Dokumen ini baru diserahkan kembali ketika jemaah mau kembali ke tanah air.
”Itu berarti selama 42 hari memenuhi panggilan Tuhan di tanah suci, jemaah tidak pegang indentitas kecuali gelang di tangannya,” jelasnya.
Mendekati puncak pelaksanaan ibadah haji, jumlah jemaah asal Indonesia yang tersesat di Tanah Suci lumayan banyak. Selama tiga hari berturut-turut, ada 111, kemudian 97, dan 83 orang yang tersesat. ”Mereka tersesat usai salat. Kebanyakan mereka yang berusia lanjut,” imbuh Sugianto.
Para jemaah banyak yang tersesat karena ada banyak pintu di Masjidil Haram. ”Ada 94 pintu. Ini yang kerap membuat jemaah bingung, karena antara pintu satu dengan yang lain mirip,” sambungnya. uji

