Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 06:54 WIB
Wapres: Tiga Faktor Penting Tingkatkan Ketahanan Pangan
Suhartono | made | Rabu, 18 November 2009 | 16:45 WIB
|
Share:

ROMA, KOMPAS.com — Wakil Presiden Boediono mengingatkan masyarakat internasional untuk meningkatkan ketahanan pangan dengan memerhatikan tiga masalah penting. Ketiga masalah penting itu, selain upaya membangun sistem informasi mengenai produksi, konsumsi, dan pergerakan harga, juga membangun cadangan pangan, serta membangun dan melakukan pengelolaan sistem peringatan dini dengan respons yang cepat jika terjadi bencana dan konflik.

Hal itu disampaikan Boediono saat berpidato di hadapan peserta Konferensi Tingkat Tinggi Ketahanan Pangan Dunia (World Food Summit), Rabu (18/11) pagi waktu setempat di markas besar Organisasi Pangan dan Pertanian PBB atau Food and Agriculture Organization (FAO) di San Marino, pusat kota Roma, Italia. Hadir dalam acara itu, Sekjen FAO Jaques Diouf.

KTT yang berlangsung sejak 16 November lalu itu dihadiri sekitar 120 kepala negara dan sejumlah menteri pertanian yang mewakilinya.

Saat duduk di ruang pertemuan, Delegasi Indonesia yang dipimpin Boediono didampingi Menteri Pertanian Suswono dan Duta Besar RI di Italia, Mohammad Omar, serta Sekretaris Wapres Tursandi Alwi.

"Sejauh ini, saya belum melihat kebersamaan langkah terhadap masalah krisis pangan dari masyarakat internasional untuk mengatasi masalah itu bersama. Sesuatu yang mendesak harus dilakukan bersama ternyata tidak memiliki kesamaan untuk melakukan langkah nyata sekarang ini," tandas Boediono, yang pernah menjadi mantan Gubernur Bank Indonesia.

Padahal, Boediono mengatakan bahwa langkah nyata yang dibutuhkan sekarang adalah mengatasi krisis ketahanan pangan dengan mencari cara untuk meningkatkan kebutuhan pangan secara cepat dan berkelanjutan.

"Kuncinya adalah percepatan investasi di bidang riset dan pengembangan serta pembangunan infrastruktur pertanian," kata Boediono.

Namun, Boediono juga mengingatkan bahwa mobilisasi seluruh sumber-sumber global juga dibutuhkan, demikian pula dengan pendanaan dan teknologi. "Tiap negara juga harus bisa mengatasi hambatan aturan regulasinya agar semuanya itu berjalan efektif," ujarnya.

Menurut Boediono, dengan masalah perubahan iklim, sistem ketahanan pangan di setiap negara harus menyesuaikan diri dengan perubahan iklim dan ketersediaan energi dunia.

Sebelum mengakhiri pidato selama sekitar delapan menit itu, Boediono bercerita tentang kesuksesan Indonesia mengatasi krisis pangan dengan cara swasembada pangan dan mengembangkan hubungan dengan negara-negara ASEAN untuk mengatasi krisis pangan.

Dari laporan FAO, hingga saat ini tercatat masih ada sekitar 1 miliar manusia lagi di muka bumi ini yang masih kelaparan. Padahal, target FAO sebagaimana dituangkan dalam Milleniun Development Goals pada tahun 2015 tidak boleh lagi ada kelaparan dan kekurangan nustrisi.