JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi demonstrasi untuk mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi atau Kapolri terjadi pada Rabu (18/11). Ratusan warga yang mengaku dari berbagai kelompok tumpah ruah di depan Istana Negara. Namun, ternyata, banyak juga pendemo yang tidak mengetahui tujuan aksi yang dilakukan. Mereka justru menggunakan aksi demonstrasi ini untuk bertamasya gratis.
"Enggak tahu ini demo apa, tadi setelah masak diajak demo. Ya udah ikut aja, tetangga juga banyak yang ikut," ujar Marhamah (38).
Tanpa menanyakan tujuan dan siapa yang didukung dalam aksi tersebut, Marhamah pun menyetujui tawaran tesebut. Setelah meminta izin kepada suami dan dua anaknya, Marhamah pun pergi mengikuti aksi demo tersebut. "Masak sudah selesai, jadinya bebas mau ke mana," kata dia.
Titin (40), pendemo lain, juga tidak mengetahui alasan demonstrasi yang dilakukannnya. Seorang tetangga mengajaknya untuk pergi ke Bundaran HI dan Monas. Karena jarang bepergian, dia pun bersemangat untuk mengikuti demo itu.
"Jarang jalan-jalan, ini kan gratis," ujarnya.
Titin juga tidak mengetahui makna selembar kain merah yang dibagikan oleh koordinator demonstrasi. Dia mengira kain tersebut menandakan bahwa dirinya termasuk rombongan demonstrasi tersebut.
Pantauan Kompas.com, para demonstran bukan hanya orang dewasa, banyak juga anak-anak usia sekolah. Beberapa orangtua membawa anak mereka, di antara mereka bahkan terdapat bayi yang digendong. Para demonstran menumpang angkot dan Metromini.
Ubay (18), seorang sopir angkot yang disewa para pendemo, mengaku belum mengetahui berapa besar bayaran yang akan didapatnya. "Tadi pas lagi jalan disewa, katanya buat demo. Ya sudah mau saja," ucapnya.
Dia pun tidak mengetahui tujuan aksi demonstrasi tersebut. Seorang penyewa hanya mengatakan ingin menyewa angkotnya untuk berdemo dari Cakung sampai Istana Negara. "Enggak nanya-nanya lagi, berangkat saja," kata Ubay.
