JAKARTA, KOMPAS.com — Bekerja sama dengan organisasi internasional Center on Global Couterterrorism Cooperation (CGCC), Nahdlatul Ulama menggelar pelatihan (workshop) antiterorisme, Rabu (18/11) di Hotel Sultan, Jakarta.
Pelatihan yang bertema "Raising Awareness of UN Global Counterterrorism Strategy among Civil Society on Southeast Asia" ini diikuti oleh lebih dari 90 peserta dari negara-negara di Asia Tenggara.
Pelatihan ini sendiri dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi. Dalam sambutannya, Hasyim menyatakan dukungannya terhadap acara pelatihan semacam ini. Terlebih Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sering mendapat sorotan karena beberapa kali terjadi aksi terorisme yang mengatasnamakan agama.
"Pendidikan merupakan salah satu kunci utama untuk menderadikalisasi aksi-aksi terorisme. Kalau teror itu sendiri bisa dihentikan dengan punishment dan attack. Tapi kalau terorisme, jalannya harus melalui moderasi pendidikan agama," kata Hasyim.
Sementara Direktur CGCC, Alistair Millar, mengungkapkan harapannya agar dengan kerja sama dalam pelatihan semacam ini bisa memberikan kontribusi positif dalam memberantas aksi-aksi teror yang sering dilakukan dengan dalil-dalil agama.
"Kami sangat bangga bisa bekerja sama dengan NU sudah merespons ini dengan sangat baik. Dari sisi civil society ini sangat bagus. Ke depannya agar semakin berkembang dan menguat," tuturnya.
Millar mengatakan, kegiatan yang digagas oleh CGCC ini dilatarbelakangi oleh kesepakatan negara-negara di Majelis Umum PBB pada 2006 untuk memerangi aksi dan berkembangnya paham terorisme. Pelatihan ini akan berlangsung selama dua hari.
Wakil Presiden Boediono yang sedianya membuka pelatihan ini berhalangan hadir karena sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Italia.
