JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Komisi I DPR Yorrys Raweyai mengungkapkan bahwa pada paruh pertama rapat kerja dengan Badan Intelijen Negara atau BIN, sebagian anggota komisi menanyakan rekomendasi yang diberikan badan tersebut terhadap kasus dua pimpinan nonaktif KPK, Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto.
Selain itu, banyak pula pertanyaan mengenai berbagai perkembangan terkini yang menyangkut keamanan negara.
"Yang menguat mengenai kasus Bibit-Chandra. Anggota komisi meminta penjelasan, rekomendasi apa yang diberikan BIN kepada Presiden," kata anggota Fraksi Partai Golkar ini di sela-sela rapat kerja dengan Kepala BIN Sutanto di Gedung DPR, Jakarta, Senin (16/11).
Dalam kesempatan raker pertama itu, Kepala BIN juga memaparkan visi dan misi BIN dengan paradigma barunya. Menurut Yorrys, yang mengutip Sutanto, BIN melakukan perubahan mendasar.
"BIN ke depan, dalam era Kabinet Indonesia Bersatu II, lebih menekankan pada smart intelligent, bukan combat intelligent. Jadi, akan terkesan sebagai intelijen yang lebih terbuka, lebih civilized, bukan melakukan tekanan-tekanan," kata Yorrys.

