Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 07:17 WIB
Persediaan Air Cukup di Mekkah dan Mina
Josephus Primus | primus | Senin, 9 November 2009 | 21:52 WIB
|
Share:

MEKKAH, KOMPAS.com — Jemaah haji tidak perlu mengkhawatirkan ketersediaan air, baik untuk keperluan sanitasi maupun air minum selama mereka melakukan rangkaian prosesi haji di Mekkah, Arafah, Mina, dan Muzdalifah (Armina).
  
Dirjen Urusan Air Muhammad bin Ahmad Bughdadi di Mekkah, Senin (9/11), mengungkapkan, pihaknya telah menyiapkan 63 tangki penimbunan air di Mekkah dan lokasi ibadah haji di Armina untuk memenuhi kebutuhan air bagi jemaah yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia. "Air mulai dipompa dari jaringan di Armina mulai 24 November," tuturnya seraya menambahkan, air khususnya akan dialirkan ke areal sekitar Masjidil Haram hingga berakhirnya musim haji.
   
Stasiun pengisian air di kawasan Muaisim, Aziziah, dan Arafah serta stasiun yang baru dibangun di kawasan permukiman Al-Kaakiyah akan beroperasi secara penuh untuk mengisi tangki-tangki setelah disterilkan dulu di titik-titik pusat sterilisasi. "Komposisi kimia dan kandungan bakteri sampel air akan diambil secara acak untuk memastikan air aman bagi manusia," ujarnya.
  
Di kawasan Masjidil Haram dan Armina, Bughdadi menambahkan, tersedia 68.500 toilet dan 70.000 keran air yang bisa dimanfaatkan oleh para jemaah haji.
  
Puncak prosesi musim haji akan berlangsung sejak 26 sampai 30 November saat jemaah dari seluruh dunia berkumpul di Armina untuk melakukan wukuf (mengheningkan diri), mabit, dan melontar jumrah.
  
Mabit adalah persiapan untuk jumrah, sedangkan jumrah adalah acara melempar batu untuk memperingati saat Nabi Ibrahim digoda setan agar tidak mematuhi perintah Allah menyembelih putranya, Ismail.
  
Menurut pengamatan, jumlah toilet di kawasan seputar Masjidil Haram memang cukup memadai, tetapi dari sisi kebersihan, masih perlu petugas yang membersihkannya setiap saat karena digunakan secara massal oleh jemaah haji dari latar belakang dan budaya yang berbeda.
  
Letak toilet yang cukup jauh (200 sampai 450 meter di luar Masjidil Haram) juga cukup merepotkan para jemaah yang shalat, Thawaf (mengitari Ka’bah tujuh kali) atau Sa’i (lari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwah), terutama yang berusia lanjut.
  
Sementara di pemondokan jemaah di kota Mekkah, jemaah umumnya mengeluhkan kurangnya jumlah toilet dan kamar mandi sehingga mereka terpaksa antre, terutama pada saat-saat tertentu di pagi hari.
  
Idealnya, setiap toilet atau kamar mandi disediakan maksimal untuk delapan orang, sedangkan banyak pemondokan yang rasio toilet atau kamar mandi mencapai 1 banding 20 atau untuk 20 orang hanya tersedia satu toilet yang biasanya berfungsi juga sebagai kamar  mandi.

Sumber :
Ant