Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 07:16 WIB
Mutasi Tiga Kastaf Terkait Pergantian Panglima TNI
Wisnu Dewabrata | made | Senin, 9 November 2009 | 17:47 WIB
|
Share:
RUMGAPRES/ABROR RIZKI
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (9/11) siang di Istana Negara melantik dan mengambil sumpah tiga Kepala Staf TNI, masing-masing Letjen TNI George Toisutta sebagai KSAD, Laksdya TNI Agus Suhartono sebagai KSAL dan Marsdya TNI Imam Sufaat sebagai KSAU. Presiden memberikan selamat kepada KSAL Laksdya Agus Suhartono.
Foto:

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Pergantian tiga kepala staf di lingkungan TNI dinilai relatif masih terbilang wajar dan sekadar untuk mengantisipasi masa pensiun para pejabat Panglima TNI, Kepala Staf TNI Angkatan Darat dan Laut saat ini.

Baik Jenderal TNI Djoko Santoso, Jenderal TNI Agustadi Sasongko, maupun Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno, ketiganya akan sama-sama memasuki masa pensiun pada tahun 2010. Pernyataan itu disampaikan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia yang juga pemerhati isu militer, Andi Widjojanto, Senin (9/11), saat dihubungi Kompas per telepon.

"Para kepala staf lama memang diganti untuk membuka peluang bagi para perwira tinggi di bawahnya naik dan kemudian salah satu dari mereka akan mengisi posisi Panglima TNI, yang juga akan pensiun. Mestinya kalau dari urut-urutan, Panglima TNI mendatang giliran matra laut," ujar Andi.

Dengan kondisi seperti itu bisa dipastikan kecenderungan pengadaan peralatan utama sistem persenjataan (alutsista) TNI ke depan, menurut Andi, akan lebih terfokus pada persenjataan maritim.

Upaya pembangunan kekuatan persenjataan matra laut sudah juga dirintis oleh mantan KSAL, Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno, yang mengusulkan pembentukan konsorsium enam negara terkait pembangunan korvet nasional di Indonesia, dalam hal ini di PT PAL.

Kerja sama tersebut nantinya dalam bentuk produksi bersama (co-producer). Beberapa negara yang kemungkinan besar akan terlibat, seperti Belanda, Italia, Korea Selatan, dan China. Dua negara lain masih belum ditentukan.

"Pak Tedjo memang sudah lama ingin ada kapal selam untuk TNI AL dan usulannya itu sudah diterima Dephan. Pilihannya produksi Korsel atau Rusia. Selain korvet nasional juga pembangunan kapal jenis landing platform dock dan perusak kawal rudal," ujar Andi.